RSS
Facebook
Twitter

Sabtu, 10 Desember 2016

Endless Tears

Akhirnya, tiga tahun masa di SMA akan segera berakhir.

 “Yahh.. serius ga bisa?”

Sebagian besar sudah memikirkan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas atau bekerja.

Ayolah kan ujung-ujungnya juga nanti ketemu juga kan?”

 Berbicara soal berakhirnya masa SMA pasti ada yang namanya upacara kelulusan.

“Ta-tapi.. Eh jangan di….”
            
      Ya, hampir semua sekolah mengadakan upacara sakral tersebut. Hari-hari itu sangat di nantikan, satu hari penuh kenangan. Senang, sedih, haru, semua menjadi satu. Akhir dari sebuah cerita di masa putih abu.

“Heh, bangun! Malah enak-enakan tidur disini! Emangnya rumah nenek apa?”
“Heh? Eh.. hehe maaf ketiduran”
“Ya itu lah kamu, kalo ga makan, ya tidur!”

 Mukanya murung kaya sipir yang belum di gaji selama tiga bulan, usahanya sudah berlangsung sekitar 2 jam yang lalu gagal. Sekarang sudah pukul 18.20 dan hal yang pertama kali Alvin lihat hanya pacarnya yang sedang murung.

“jadi? Gimana?”

Bintang hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perasaan kecewa. Alvin sudah menduga bahwa rencana Bintang tidak akan berhasil sudah berkali kali ia mengatakan bahwa itu akan buang-buang waktu, tetapi Bintang buka orang yang mudah mendengarkan omongan orang lain sebelum ia melakukan dan melihatnya sendiri.

“yaudahlah, mau diapain lagi? Kamu juga kan ga bisa nolak keputusan mereka.”
“Anak-Anak cowo-nya gimana?”
“Jawaban mereka tetep sama, semuanya gak mau ngelewatin satu detik-pun momen sama orang tua mereka masing-masing”

Waktunya untuk menyerah rencana hebatnya tidak akan pernah berhasil bahkan sampai avatar Ang datang untuk kembali melawan raja api demi keseimbangan dunia.  Ruang tamu hening selama lima belas menit, karna sudah malam Alvin memutuskan untuk pulang  kerumah.

“Tunggu…”
“Bin.. Udah malem ah.”
“Nanti aja pulangnya.”
“Ya ampun, mulai deh manjanya keluar.”
“Ih, masih kangen tau!”
“Ya kan besok masih bisa ketemu Bin.”
“Kalo setelah kelulusan kita ga bisa ketemu lagi gimana? Kamu pasti sibuk dan jarang buat ketemu aku.”

Perkataan Bintang seketika membuat Alvin bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia akan benar benar sibuk dengan kuliahnya? Apakah ia akan sering lupa dengan Bintang? Apakah ia akan sulit membagi waktu bersama Bintang? Apakah dengan lulusnya mereka di SMA merupakan awal hubungannya berakhir dengan Bintang?.

“Kita bakal tetep ketemu kok, kampus aku sama kamu juga ga jauh jaraknya, sebisa mungkin kita bakal ketemuan setiap weekend, oke?”
“Janji?”
“Aku janji”

Mereka berdua saling melempar senyum. Bintang benar benar senang dengan ucapan Alvin dan Alvin percaya kalau Bintang akan baik baik saja meskipun mereka akan berada di kampus yang berbeda.

Waktu terus berlalu dan hari upacara kelulusan telah tiba. Semua orang sudah berkumpul di aula di tengah pusat kota seluruh siswa beserta orang tuanya masing masing sibuk mulai memasuki aula dan akan memulai acara yang akan selalu di ingat semasa hidupnya. Namun Alvin sendirian di lorong gerbang aula yang tak jauh dari jalan raya.

“yaampun kemana sih ini orang? Angkat kek telfonnya”

Alvin bertanya tanya di mana Bintang sekarang, apakah ia terlambat bangun? Kenapa telfonnya tidak diangkat? Padahal sebentar lagi acaranya akan di mulai

“Masa iya dia telat bangun? Bintang kan orang yang paling on time?”
 Ucap Ratu yang tiba tiba datang bersama Adit dan Delima .

“Mangkanya itu, gua juga heran kenapa jam segini dia belum dateng.”
“Mungkin emang lagi di jalan Vin, dan mungkin lagi panik karna telat.. haha”
“Orang kaya Bintang bisa telat juga ya? Gue ga nyangka”
“ Eh Delima, ada pepatah yang bilang sepintar pintarnya tupai melompat pasti bakal jatoh juga, iya ga Vin? Haha”
“Iya sih Dit, tapi masalahnya dari tadi telfon gua ga diangkat sama dia, kan aneh”

 Tak lama kemudian kecemasan Alvin mulai hilang, sebuah mobil BMW hitam sudah berada di sebrang jalan, Alvin, Delima, Adit, dan Ratu melihatnya dengan seksama, dan Alvin menyambutnya lalu berusaha menghampiri mobil tersebut

Saat berada di tepi jalan yang berbeda dengan posisi mobil tiba-tiba seorang laki laki berumur 5 tahun datang menghampiri Alvin sambil berlari

“Kak Alvin!”
“Troy? Yaampun bahaya jangan dulu nyebrang”

Alvin berlari berusaha menggapai Troy sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, lalu sebuah mobil dengan cepat menghampirinya.
Bash!

Alvin berhasil menangkap Troy, mereka berdua terselamatkan dari maut namun di saat yang sama mobil tersebut menabrak orang lain. Terdengar suara Delima dan Ratu menangis kencang, Adit hanya bisa terdiam melihat apa yang baru saja terjadi. Tepat di depan Alvin sudah ada Bintang di tengah jalan dengan darah di sekujur tubuhnya.

Mobil yang menabraknya sekelebat menghilang, Alvin membeku, air mata sudah menetes deras, fikirannya kacau melihat  Bintang tergeletak tak berdaya disana tiga puluh menit kemudian ambulans datang dan membawa Bintang dan Alvin, Ratu, Delima, Adit, Troy, dan ayahnya Bintang ikut bersamanya.

Di rumah sakit Bintang langsung di bawa ke ruang UGD bersama Alvin dan teman-temannya.
“Bin.. bangun Bin, Bintang!”

Alvin tanpa henti berteriak selama ia mengantarkan Bintang ke UGD “Please Bin bangun..”  Mereka hampir sampai di ruang UGD tiba tiba Bintang tersadar dengan membuka mata sedikit dan tersenyum

“Tunggu ya, ini cuman sebentar kok”.

Alvin terkejut, itu kalimat petama yang Bintang ucapkan setelah kejadian itu. Dua jam Alvin dan teman temannya menunggu dengan sangat kacau, Alvin hanya bisa berdiam diri dengan duduk di bangku yang tak jauh dari ruang UGD fikirannya kacau, emosinya benar benar tak menentu, gelisah tak berujung, tiba-tiba seorang dokter datang menghampirinya.

“Maaf, kita terlambat menyelamatkannya”

Alvin benar benar meledak ledak, ia mulai kalut, ia tidak percaya kalau Bintang sudah tiada, menangis dan terus menjerit melihat kenyataan yang ada. Delima dan Ratu tak henti henti menangis Adit berusaha menenangkan Alvin yang terus meronta ronta Ayahnya Bintang hanya bisa berdiam sambil menenangkan Troy, adiknya Bintang.

Kesedihan mengiringi pemakaman Bintang, semua orang tak percaya Bintang akan pergi dengan cepat,  semuanya benar benar berduka atas kepergiannya, Alvin hanya bisa berdiam diri melihat proses pemakaman, fikirannya masih kacau. Tidak ada yang menggangunya kebahagiaannya bersama Bintang selama dua tahun berakhir dengan kesedihan yang dalam.

Entah apakah Alvin  dapat melupakan semua ini, jika ya butuh berapa lama untuk dapat melupakannya, janjinya kepada Bintang masih dapat ia rasakan, semua terjadi begitu cepat Alvin masih tidak menyangka kematian dekat bersama Bintang, Bintangnya sudah tidak bisa memancarkan cahayanya, tak akan ada lagi cahaya yang dapat menghangatkannya.




I don’t fear of death anymore

when I see it All over you
Heart are Frozen 
when the stars has lost his light
I’m drown into a darkness

Selasa, 30 Desember 2014

Voice Of Love

  Hey ayo sebentar lagi show akan segera dimulai, dalam waktu lima menit semua member harus sudah ada di backstage ya.. Bintang mana? Apa dia sudah selesai makeup nya?
            Sebenarnya sudah lima menit lalu ia telah menyelesaikan semua persiapan sebelum konser namun sampai saat ini ia masih berkaca, bukan karna memeriksa apakah makeup nya kurang pas atau melihat kostumnya yang kekecilan atau kebesaran.. melainkan ia berusaha setengah mati untuk bisa tenang saat berada di panggung… Untuknya, saat ini dua hal yang sangat ia fikirkan.
            Pertama, ia masih sangat tidak menyangka bisa berada di tempat ini sekarang. Ia akan memulai sesuatu yang selama ini menjadi mimpi terpendamnya selama ini.. Menjadi penyanyi
            Kedua, langkahnya bisa dapat sampai sejauh ini dia rasa bukan karna dirinya sendiri tetapi ada sesorang yang terus memberi semangat dan terus memberi keyakinan kepadanya.

            Back then…
            Kenapa harus malu? Gua yakin lo bisa. Gua yakin, suara yang selama ini gua denger itu bukan keluar secara kebetulan, tapi emang itu udah ada di dalam diri lo.. bakat yang selama ini lo punya tapi ga lo sadarin, tenang banyak ko an-…
            Udahlah! Pokonya gua ga mau, Audisi ini cuman omong kosong.. gue ga pantes bisa masuk JKT48!!
Tapi Bin.. Bintang..!!
            Alvin masih tidak mengerti apa yang salah dengan orang itu padahal tidak sekali dua kali ia mendengar Bintang suka bernyanyi, meskipun secara diam diam. Alvin juga sering melihat catatan catatan puisi yang Bintang buat di buku diarynya Bintang.
            Bin.. padahal..
           
            Fikirannya kali ini sangat tidak menentu.. Bintang masih tidak menyangka Alvin bisa tega berbuat hal senekat itu kalau saja papanya tau soal ini, pasti ga aka nada ampun buat Bintang, buat Bintang memikirkan hal itu hanya akan menjadi beban di hidupnya, setidaknya Bintang merasa kalau dia sudah bahagia, cukup dengan menuruti kemauan papanya dengan terus menjadi juara kelas, selama orang tuanya mereasa puas dengan prestasi Bintang ia sudah tenang.
Lo tega Vin.. Kenapa lo ngirimin rekaman suara gue kesana?, padahal gue percaya banget sama lo buat ga ngasih itu ke siapa siapa, tapi kenapa.. kenapa lo malah tega ngelakuin ini Vin..

            Sudah dua hari ini Bintang dan Alvin tidak saling bicara, jangankan biacara untuk tegur sapa saja Bintang sudah merasa tidak sudi dengan Alvin.
Woy Alvin.. diem aje, main yang bener nape bengong mulu Ucap Essa temannya
Sorry sorry.. Lagi ga fokus nih..
Alah galau mulu.. mikirin si Bintang lu? Haha
Eh.. kaga apaan dah, gua sama Bintang ga ada apa apa kali
(Kriingg.. kriingg…)
Eh bentar.. Hallo? Ah iya saya sendiri?
……..
…….
…….
se-SERIUS??!!!

            Biasanya setelah pulang sekolah Bintang selalu menyempatkan diri berjalan jalan bersama Alvin ke taman kota yang biasa mereka kunjungi berdua, tetapi dengan kondisi hubungan pertemanan mereka yang sedang seperti ini.. setelah pulang sekolah ya Bintang langsung pulang kerumah.. Bintang mengakui kalau setelah tidak ada Alvin hidupnya terasa sepi, ya seperti kemarin kemarin.
            Hey!! Sudah kau racuni apa anakku hah?? Jaman sekarang orang yang bermimpi hanya akan jadi pecundang!! Bintang terkejut mendengar hentakan suara Papahnya dari ruang tamu, sebenarnya ada apa? Kenapa papanya Bintang bisa sampai semarah itu? Bintang pun langsung menuju ruang tamu.. Alvin? Ngapain dia disini?
 Hey!! Kau lihat itu, saya hanya bisa membeli satu AC untuk di taruh di kamar Bintang agar ia dapat belajar dan terus mendapatkan nilai yang baik di sekolahnya, agar dia bisa menjadi sarjana dan bekerja dengan layak!! Kamu temannya tidak usah menghasut dia untuk melakukan hal hal yang percuma seperti ini!! Ini cuman buang buang waktu!!!
            Papanya Bintang tiba tiba terjatuh di lantai, di ikuti batuk batuk yang tiada henti dan keadaan makin kacau
PAPAH!!
Bin.. Bin.. gua, gua minta…
LO KELUAR DARI RUMAH GUE SEKARANG!!! PERGI LO!!! GUE BENCI SAMA LO!!
            Alvin tidak bisa berbuat apa apa lagi, ia pergi dan meninggalkan secarik kertas yang ia bawa untuk Bintang..

            Misi benar benar gagal, bahkan lebih buruk sekarang Alvin makin di benci oleh Bintang. Padahal ia berfikir kalau cara ini dapat meyakinkan Papahnya Bintang sepenuhnya fikirannya makin tidak karuan, Alvin takut kalau terjadi sesuatu dengan Papahnya Bintang..
Bego lu Vin.. Bego!!

            Ke esokan harinya secara tiba tiba Bintang mengajak Alvin bertemu di taman yang biasa mereka kunjungi, sepertinya Bintang bakal memaki Alvin abis abisan.. Ini ganjaran dari apa yang ia buat kemarin. Mau ga mau Alvin bakal nemuin Bintang meskipun bakal pait Alvin akan menerima apapun yang akan di lakukan Bintang kepadanya.
Alvin.. Makasih ya.. What? Ga salah denger? Bintang ngomong gitu? Dia lagi mabok ya..
Ma-makasih?.
Iya, berkat lu fikiran papah berubah, sekarang dia ngedukung gue sepenuhnya untuk nyanyi..
            Kali ini Alvin bener bener kaget dengan omongan Bintang barusan, padahal baru kemarin dia di bentak Bintang dirumahnya sendiri keraguan Alvin dengan apa yang ia dengar barusan juga telah menjadi keyakinan sepenuhnya karna Bintang telah bercerita semua apa yang telah terjadi sore itu dirumahnya
Ngomong ngomong.. dari mana lo tau kalo gue dulu ga di bolehin nyanyi sama papah?
Eh.. Banyak yang bilang kalau papah lu itu orangnya keras.. mangkanya gue coba yakinin papah lo sendiri, barang kali papah lu bisa berubah fikirannya

Seketika hubungan pertemanan mereka kali ini langsung membaik seperti dulu. Dan akhirnya Bintang di terima menjadi salah satu anggota JKT48 dan besok Bintang bakal memulai kegiatan yang bener bener nguras tenaga dia buat berada di idol group itu.. malamnya Bintang dan Alvin masih bersama sama, menghabiskan hari terakhir mereka bersama sama sebelum Bintang akan di sibukan dengan segudang kegiatan yang ada di JKT48 nanti..

Gue ga nyangka.. Tepat selangkah lagi mimpi gue bener bener terwujud.. Semua berkat lu Vin, tanpa lo mungkin gue ga akan ada di posisi ini sekarang.. Sekali lagi, makasih ya.. makasih banget lu ngewujudin mimpi yang selama ini gue punya..

            Sisa sisa waktu yang mereka pakai di hari terakhir mereka di pakai sangat sesaat, mengingat keadaan Bintang yang besok harus bangun pagi pagi untuk latihannya padahal Alvin masih sangat ingin menghabisakan waktu dengan Bintang.. Sepertinya ini bukan waktunya.. eh kalo nyatain ke Bintang soal ini sekarang.. pasti dia bakal nolak, lagi pula…

And now…
Bintang ayo Show akan segera mulai..
            Iya.. maaf buat nunggu, em member yang lain udah siap kan?
            Udahlah, dari tadi kita nungguin kamu
            Eh.. maaf ya.. hehe
Ini saatnya, mimpi yang selama ini gue pendem, hehe iya.. awalnya ga kefikiran bisa berada di sini sekarang.. ini semua karna kamu, iya kamu.. orang yang selalu bikin aku percaya tentang mimpi.. selalu percaya bahwa takdir bisa dirubah dan selalu percaya dengan apa yang kita punya agar kita bisa terus merasa hidup.. kamu udah janji kan? Kalau kamu bakal ada di kursi penonton di paling depan buat ngeliat aku tampil sekarang?

Inilah dia Idol Group fenomenal di Indonesia… GUSY ARE YOU REDYYY???!!! This is it JKT FOURTY EIGHT!!!!!!

Iya.. ini saatnya.
sampai ketemu di panggung ya...

            fhoumm…..

            Pemirsa kali ini berita datang dari sebuah Idol Group yang terus naik daun di permusikan Indonesia, yup siapa lagi kalau bukan JKT48. Kali ini JKT48 Operation Team mempersembahkan penampilan dari anggota anggota baru yang berada di generasi empat, meskipun member member baru generasi ini sudah dapat tampil seperti senior seniornya loh.. dan penampilan mereka sekali lagi dapat menghibur jutaan Fans JKT48 yang diselenggarakan di salah satu mall di daerah sudirman..

            Sambil mendengar siaran TV yang memberitakan soal JKT48 di kamarnya, Alvin dan Essa sedang bercakap cakap di telfon.. Alvin menanyakan kepada Essa soal JKT48, kebetulan Essa tau banyak soal mereka.

Jadi sebenernya mereka itu ga boleh pacaran ya?
Iya Vin.. mereka itu kan rata rata fansnya cowo semua, jadi ya wajar kalau mereka ga di bolehin pacaran..kalo gue saranin, mendingan lu lupain aja si Bintang dari pada dia nanti kena masalah di managementnya, toh lu udah seneng banget kan bisa ngeliat dia ada di sana?
Iya sa.. well ada benernya juga sih lu, eh tapi ngomong ngomong ko lu bisa tau banyak sih soal mereka?
Ya tau lah.. gini gini gua juga ngefans bro sama JKT48 oshi gue.. si Nadilla dari team KII
Dasar.. pantes lu tau banyak Essa Essa
Hahaha eh udah dulu ya.. ada tamu nih gue.. nanti kita ngobrol aja lagi
Iya oke.. makasih ya Essa..
Oke.. slow aja bro..

            Menurut Alvin sekarang perkataan Essa ada benarnya juga dari pada ia membuang buang waktu terus mencari cari waktu untuk dapat menyatakan perasaannya kepada Bintang.. lebih baik ia melupakannya sesegera dari pada batinnya tersiksa.. tetapi sulit bagi Alvin melupakan Bintang bahkan mungkin Alvin tidak akan bisa melupakan Bintang mungkin karna Bintang terlalu spesial di mata Alvin, ditambah sebentar lagi wajah Bintang akan terlihat di berbagai acara TV.
            Kinan.. kaka pergi keluar sebentar, kalo nanti mamah sama papah udah pulang bilang aja kaka lagi main..
            Um.. iya ka, tapi kaka mau kemana?
            Ada urusan sebentar..

            Hanya tempat ini yang bisa menenangkan hati Alvin.. Taman ini juga sempat mengisi ingatannya bersama Bintang… Alvin berusaha mengenang semua hal yang telah ia habiskan bersama Bintang.. ya meskipun disini bukan tempat dimana Alvin harusnya berada untuk bisa melupakan Bintang.. tetapi entah kenapa selalu tempat ini yang menjadi titik Alvin bertuju.

Dari tadi aku cari cari ternyata kamu disini..
Huh?Bin-Bintang? Kamu..
Kenapa kamu ga dateng?
Um.. oh iya, aku tadinya tuh mau dateng Bin tapi ehhh keabisan tiket jadinya ya aku pulang deh hehe..
Bohong! Ini apa? Ini punya kamu kan?
Eng.. um… i-itu..
Apa? Mau alesan punya Essa? Aku baru aja dari sana.. dia bilang kamu ga jadi dateng, kamu malah main game dirumah dia..
Eng.. maafin aku Bin.. aku cuman gamau.. ganggu kesuksesan kamu sekarang, aku cuman pengen kamu konsen sama mimpi yang udah kamu capai itu.. hmm.. sekarang Bintang yang aku kenal bukan lagi Bintang yang redup, sekarang kamu udah bisa nunjukin cahaya kamu sendiri.. sekarang kamu udah bisa nerangin semua orang yang bener bener ngedukung kamu.. contohnya ya fans fans kamu..
Vin.. sebelumnya makasih banget berkat kamu aku udah bisa menuhin mimpi aku.. tapi, cahaya yang kamu maksut itu belum sepenuhnya sempurna.. masih ada 1 hal yang belum aku penuhin sekarang, em.. kamu mau ga bantu aku lagi buat wujudin itu?
Insaallah aku siap bantu Bin.. apa itu?
Em.. kamu mau kan, berdiri di samping aku buat bikin cahaya yang ada di hati aku bersinar dengan sempurna? Karna aku seorang pemimpi yang butuh seorang si Pembuat untuk meujudkan mimpi mimpi yang masih aku simpen, terutama bisa jadi cahaya yang ga akan pernah padam buat kamu?
Alvin benar benar kaget dengan apa yang barusan Bintang ucapkan padanya udara yang tiba tiba dingin langsung menusuknya dengan cepat. Dengan senyuman Bintang terus menunggu jawaban dari Alvin.. Bintang yakin kalau jawaban yang ia fikiran akan keluar dari mulut Alvin, mengingat Bintang telah mendengarkan semua penjelasan dari Essa soal perasaan Alvin kepada Bintang
Iya Bin.. aku mau

Paaashhh…  mereka berdua saling tersenyum bahagia.. kali ini cahaya hati yang di miliki Bintang benar benar bersinar dengan sempurna dan tidak akan pernah padam karna mimpinya yang tersimpan akan terus dapat terwujudkan oleh si pembuat… Alvin, hanya Alvin yang akan terus membuat cahaya di hati bintang terus bersinar, dan hanya Bintang yang selalu dapat menerangi setiap langkah yang akan diambil olehnya untuk memenuhi mimpi mimpi yang di simpan oleh Bintang…


Did you feel the Voice Of Love?
It's Written in the stars..

Sabtu, 13 September 2014

Bintang Diujung Pelangi

Dahulu kala, di sebuah negri yang setiap harinya berpelangi menawan, hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Namanya Putri Bintang dari kerajaan pelangi. Putri yang diharuskan hidup sendiri untuk alas an tertentu… Tapi yang pasti, dalam hati si putri menangis karena hatinya selalu menanti kehadiran pangeran yang selama ini diimpikannya.. Pangeran yang selalu hadir di setiap mimpinya.. Pangeran yang tidak pernah dilihat rupanya.
                Sampai suatu hari, saat sang putri sedang berjalan jalan keluar kerajaan, bertemulah ia dengan seorang pangeran yang sedang merantau ke negri pelangi. Sang putri tau, kalau hatinya telah memilih sosok pangeran itu. Dialah sosok pangeran yang telah lama di cari oleh putri Bintang. Begitu pula dengan hati sang pangeran. Mereka berdua sadar kalau mereka berdua saling mencintai. Tapi sayang, sang pangeran tidak bisa mengakuinya karna putri Bintang tidak boleh mencintainya.. Dan pangeran tau akan hal itu. Putri Bintang tidak boleh merasakan… Cinta. Itu ketentuan yang harus mereka hadapi.
                Dan suatu hari, saat akhirnya sang pangeran harus pergi dari negri Pelangi untuk meneruskan perjalanannya.. Ketika itulah sang pangeran akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada si putri.. Namun ternyata waktu tidak pernah mengizinkannya. Sebelum pergi, pangeran berpesan.. “putri maukah kamu menungguku diujung pelangi sampai sebuah pelangi muncul di negrimu? Aku janji akan berada disana untuk mengatakan sesuatu padamu..”  Si putri pun mengangguk, meskipun dia nggak mengerti apa maksud ucapan pangerannya. Karena kan pelangi memang sudah abadi negri ini setiap harinya.. Buat apa.. Buat apa dia menunggu lagi datangnya pelangi?
                Lalu setelah pangeran pergi, barulah si putri mengerti.. Kepergian pangeran membuat pelangi di negri itu ikut menghilang. Akhirnya putri sadar kalau pelangi itu tercipta karena hatinya.. dan begitu hatinya hancur karena cinta, pelangi di negri itu pun ikut menghilang. Itulah alasannya mengapa putri Bintang tidak boleh merasakan cinta.. Cinta itu berbahaya bagi sesorang yang telah di tunjuk oleh takdir. Pelangi di negrinya tidak boleh musnah. Dan untuk itu, harus ada yang berkorban. Dia adalah.. Putri Bintang.
                Setelah menunggu berhari hari dan berbulan bulan, pelangi pelangi tidak pernah muncul kembali di negeri pelangi. Hujan pun tidak pernah bisa menghidupkan pelangi. Itu kenyataannya, dan putri Bintang berusaha keras untuk tetap tegar. Dia tidak pernah mau menangis karna percaya dengan pangerannya. Suatu saat, pasti. Pasti pangerannya akan kembali saat pelangi muncul.
                Sampai akhirnya penantian bertahun tahun Putri Bintang tidak memberikan hasil apapun. Pelangi tidak pernah menampakan dirinya lagi.. Akhirnya hati putri Bintang pun menangis. Matanya menitikan air mata pertamanya. Dia menangis karna pangerannya. Menangis karna dia ingin terus percaya dengan pangerannya, meski pelangi tidak akan pernah muncul untuk selamanya.
                Tapi siapa sangka kalau satu keajaiban terjadi detik itu. Ketika butir air matanya menyentuh tanah, titik air matanya itu kembali melayang dan membentuk sebuah pelangi yang sangat indah. Pelangi dua belas warna yang jauh lebih indah bila dibandingkan dengan pelangi yang pernah menghiasai negeri itu sebelumnya.
                Putri Bintang pun langsung berlari mencari ujung pelanginya.. Dan akhirnya, ternyata penantiannya tidak sia sia. Ketika putri sampai di ujung pelanginya, ternyata sang pangeran.. sosok yang selama ini di rindukannya selama ini memang sudah berada di sana. Di hadapan Putri Bintang. Pangeran tidak berbohong. Dan keyakinan Putri Bintang selama ini terbukti. Sang pangeran datang sambil membawa sebuah toples yang berisikan kunang kunang untuk Putri Bintang.
                Akhirnya, pangeran mengutarakan isi hatinya pada Putri Bintang. Mereka saling berpeluk.
“Putri, aku kembali”
Tangis Putri Bintang menderas.

                Dan sejak saat itu, pelangi dua belas warnalah yang terus hidup menghiasi Negri Pelangi. Putri Bintang akhirnya bisa bahagia karena cinta dan tinggal selama lamanya bersama sang pangeran di negeri pelangi.

Senin, 25 Agustus 2014

Kesalah Pahaman Part 1


Seminggu sudah berlalu semejak Seno berada di kelas 12. Selama ia berada di kelas barunya, berada di sekitar teman teman barunya, tertawa bersama ketiga sahabatnya Dika, Radit, dan Irfan membuat ia semakin sadar meskipun ia hanya sementara di sekolah barunya ini ia tetap membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya, mengisi hari harinya sambil menunggu kelulusannya tiba.

Kali ini Seno, Dika, Radit, dan Irfan sedang berada di kantin sekolah..

“haaa Dit Dit bagi Dit..”

“Ah gila lu Fan, lu kan udah beli banyak banget tuh gorengan dari tadi, masih kurang apa?”

“yak elah bagi dikit doang, duit gua udah abis barusan, tinggal buat beli rokok”

“Boros banget lu jadi orang!! Udah ah gua laper oi, nyomot mulu.. kapan gua makannya?”

“ah elah pelit lu!! Udah jadi haji juga masih aja pelit, ga berkah tuh ibadah lu!!”

“Bodo, dari pada lu? Udah makan banyak masih minta ke orang juga!!”

Sedikit tentang Radit, akhir tahun kemarin dia baru aja menunaikan ibadah haji di mekkah. Ya, memang Adit orangnya sedikit pelit kadang Irfan kesel banget sama sifat pelitnya yang kaya tuan Crab di kartun Spongebob, apa lagi kalo Irfan disuruh nginget oleh oleh apa yang dikasih Radit ke dia, Dika dan Seno sewaktu dia pulang dari umrahnya di mekah.. itu tuh si Radit beliin mereka Air Zam Zam satu liter dan satu kotak kurma masing masing untuk mereka bertiga asli dari Arab, tapi belinya di Tanah Abang. Ngerti kan gimana keselnya Irfan kalo nginget itu? So, lebih baik jangan dibahas lagi.

“Dika, jujur ya lama lama ko gue enek ya liat lu bertingkah kaya gitu terus?, udah seminggu lu kaya gini di kantin tapi ga ada satupun ade kelas cewe yang ngajak lu kenalan, khawatir gua sama lu”

“elah sen, slow slow usaha gua ga sia sia ko.. sekarang gua gaperduli mau adik kelas kek, guru kek, penjaga sekolah kek, sekarang nih lagi ada cewe yang lagi fokus banget liatin gua”

“he? Maskutnya? He siapa emang yang liatin lu? Suka ge er aja lu! Udah tau kantin lagi rame paling paling yang liatin lu mukanya “zonk” lagi haha udah sen biarin aja biarkan dika berkarya”

“eh gendut! Berisik aja lu! Lu ga percaya? Tuh liat arah jam 10”

Seno langsung melihat kearah yang Dika maksut, dia ngeliat… cewe berambut sebahu, berkulit sawo matang dan bodynya, ya bodynya lumayanlah mungkin emang itu cewe tipenya si Dika dan ga nyampe 2 detik Seno langsung lanjutin makannya lagi.

“Wah serius lu itu dia yang liatin?! Wah kalo kali ini gua percaya dah sama lu, soalnya pas kita liat dia balik dia langsung sok sok-an buang muka gitu. Gileeee keren lu Dik! haha”

“Haa apa gua bilang? Percaya kan sama gua? Dika gituloh haha!!”

“Iya tuh bener kata si Irfan! Gila jarang jarang lu bisa bikin cewe kaya dia bisa tertarik sama lu, ngeliatinnya sampe segitunya amat tuh cewe. tapi gua heran ko dia bisa ya ngeliatin lu sampe segitunya?”

“Sialan lu Dit! Bilang aja lu sirik kan? Lu liat nih nanti di kelas gua mintain pin BB-nya, mumpung lu sama gua sekelas sama dia haha”

“Asek bener lu ya? gua liatin lu di kelas, awas lu ngomong doang!”

“Kalo ga salah dulu dia anak 11 IPS 2 kan? Dia kan…”

“Nah iya Sen, namanya tuh Deliana. Dia tuh personil dari BDG84 gileee Dika ganteng kali kau nak! Sampe sampe artis memandangi lu sampe segitunya. Eh gua kasih tau lu nih ya, kalo lu mau minta pin-nya mendingan lu gerak cepet deh, soalnya dia tuh pulang sekolah suka langsung pulang, jarang buat main sama temen”

Ampun dah.. segitunya amat, padahal barusan si Irfan bilang sendiri kalau kantin lagi rame itu berarti kecil kemungkinan kalo tuh cewe liatin si Dika lagian cuman ngeliatin doang kan?. Hm jadi namanya Deliana ya? Personil BDG84?

Setelah puas puasnya makan di kantin sekaligus ngeceng di kantin (buat Dika) ga kerasa bell kembali berbunyi pertanda kalau istirahat telah selesai. Setelah bell masuk kelas terakhir pelajaran dilanjutkan hingga jam pulang sekolah tiba, pada saat jam pulang sekolah Dika, Irfan Dan Radit meninggalkan Seno di kelas karna Seno harus ke perpustakaan untuk mengurus cerpennya yang akan segera ia tempel di mading sekolah. Lumayan lama Seno berada di perpustakaan dan akhirnya cerpennya telah selesai dan besok ia tinggal menempelkannya di mading Sekolah dan pada saat Seno ingin pulang sekolah, langkahnya terhenti oleh seorang gadis yang memanggil kearahnya.

“Sorry, lu Seno kan? Temennya dika?”

“Iya, ada apa ya?”

“em gue boleh minta pin BBM-nya dia ga? Kebetulan gua ada tugas kelompok sama dia, jadi gua perlu pin dia buat ngehubungin dia kalo mau ngerjain tugas kelompoknya”

“oh sebentar, nih pinnya..”

“oke udah gue catet, thanks ya”

Singkat, padat, dan jelas ga ada basa basi langsung ke inti. Sesibuk itu ya seorang artis? Ya sebodo lah Seno ga ada waktu buat mikirin yang kaya kaya gitu, yang penting sekarang dia bisa pulang kerumah dan langsung tidur dirumah mumpung besok minggu jadinya Seno bisa tidur tiduran sepuasnya yang di fikirannya sekarang cuman satu, semoga hari senin besok cerpennya bisa dapet respon yang baik dari anak anak di sekolahnya.

“Eh bro lu tau ga? Si Delia nge-invite pin BBM gua loh, gilaa kaget gua malem minggu lagi asik asik ngopi tau tau dia nge-Invite gua haha :D” Pengirim: Dika.

“Aseekkk selamat dah ternyata dia bener bener suka tuh kayanya sama lu? XD” Pengirim: Seno

“Hahaha biasa resiko orang ganteng kaya gini nih, lu tau ga sih? Dia sok sok-an nanyain tugas gitu ke gua sampe nge-PING!! BBM gua dari tadi, padahal kalo mau ngobrol bilang aja ya, gausah nge-PING!! Juga wkwk” Pengirim: Dika

“Buset.. Pede mampus lu kwkwkw namanya juga cewe Dik yaudah proses terus lah.. kalo jadian jangan lupa PJ-nya loh! Kwkwk” Pengirim: Seno

“slow bro, urusan itu gampang.. kalo gua jadian sama dia nih, lo semua gua traktir, tunggu aja udah dulu ah gua mau BBMan lagi nih, dia baru bales BBM gua.. maklum artis” Pengirim: Dika

Well kayaknya Dika sama Deliana bakalan bener bener jadian, si Dika juga kayanya bener bener ga nyia nyiain kesempatan buat deket sama si Delia.. ya kapan lagi coba bisa deket bahkan pacaran sama artis, anak BDG84 lagi. Maksutnya siapa sih yang ga mau sama anggota girlband yang lagi naik daun itu? Seno sih berharap Dika bisa cepet cepet pacaran sama si Delia ya lumayan kan dapet traktiran dari si Dika pokoknya kenyang kenyang kenyang..



Will Be Continue..

Minggu, 24 Agustus 2014

Hari Baru Bersiap Sambut Cerita Yang Baru

         

Pagi ini sudah tidak seperti di pagi pagi yang kemarin. Kalau di pagi yang kemarin anak ini masih bisa kembali tidur, namun sekarang dia harus memulai lagi rutinitas lamanya dalam waktu yang cukup lama. Bangun tepat waktu sudah, mandi sudah, sekarang dia sedang memakai seragam sekolahnya lalu berkaca untuk menyisir rambutnya yang masih berantakan namun untuk kali ini ia tidak memandang kaca dengan lama seperti tahun kemarin setelah menyisir rambutnya ia langsung mengecek Handphone-nya.

“bro, udah berangkat? Gua sama anak anak di warkop biasa kita nongkrong. Lu buruan kesini, kalau ga kita langsung ketemu di sekolah.” Pengirim : Irfan

Cerita ini masih berlanjut, awal mulanya dia berpindah dari sekolah lama ke sekolah barunya di kelas sebelas penuh dengan cerita cerita indah, dan di kelas dua belas dia akan melanjutkan cerita itu dan menutupnya dengan penuh kenangan dan kebahagiaan.

“Namaku Seno”

Sudah genap setahun Seno melanjutkan hidup barunya di sekolah baru, cukup lama baginya untuk melupakan masa lalunya itu, sekarang dia sudah mempunyai teman baru dan sudah bisa merasakan tawa di sekitarnya. Pagi ini langkahnya langsung menuju ke sekolah karna bel sekolah sebentar lagi berbunyi, dia berjanji dengan tiga orang sahabatnya untuk bertemu di sekolah. Kali ini Seno di tempatkan di kelas 12 IPS 1 keseriusan belajarnya di kelas sebelas telah mendapatkan hasil yang memuaskan karna ia di tempatkan di kelas unggulan di sekolahnya. Isinya ya bisa di tebak, anak pinter semua.

“Kayanya kita ber 4 dibagi dua ya gua sama elu di kelas 12 IPS 2, si Irfan sama si Seno di kelas 12 IPS 1”

“Eh iya juga ya, ko gua baru sadar ya? padahal gua pengen banget di 12 IPS 1, sial lah”

“Eh kehed! Kalo lu juga di 12 IPS 1 gua sama siapa nanti? Tega lu ninggalin gua?”

“Yaelah Dika, gua bercanda bro, slow slow.. sebentar gua liat liat dulu anak anaknya siapa aja di kelas kita..”

“Deuh sia, yaudah sono.. sekalian itungin cowonya berapa cewenya berapa”

“Iyeee ah, berisik lu”

Selagi Radit ngeliat daftar nama anak anak yang bakal jadi temen sekelas barunya, si Dika malah asik asikan ngeliatin adik adik kelas yang cantik cantik yang pada lalu lalang di depan dia, sambil sok sok-an bersikap cool di depan mereka dengan masang headset ke telinganya, padahal ga muter lagu apa apa, ya biar di bilang “cool” doang. namanya juga usaha.. Pas lagi asik asik ngeliatin adik kelas yang cakep cakep dari jarak yang lumayan deket dia ngedenger suara gerutu orang, gerutuannya makin mendekat dan Dika udah ga asing sama itu suara.

“Tu anak kemana lagi, di sms ga bales, telfon ga diangkat.. semprul”

“Lagi di jalan kali, bentar lagi juga nyampe”

“Alah, kalo dia ga masuk gimana? Gua malah sendiri duduknya ntar! Ah males banget”

“Ya elah, emangnya dia elu apa? Tukang bolos hahaha”

“yee tengil, gua jarang bolos yee”

“hallaaa suka ngelak aja lu haha”

“Sialan lu dika!!!”

Irfan abis di ledekin sama Dika. Mereka berdua emang seneng banget bercanda bahkan kalo si Radit sama Seno lagi serius ngerjain tugas, tapi mereka bisa ngerti ko batasan batasannya. Itu sebabnya Seno bisa nyaman sama mereka, secara ga langsung Seno sadar kalau dia juga butuh sama yang namanya ketawa, dia gabisa yang namanya terus terusan memandang sesuatu itu serius.

“Tuh anaknya, panjang umur lu diomongin sama si gendut nih”

“he? Ada apa sih? Kenapa lu ngomongin gua Fan?”

“Abis.. elu gua telfon ga diangkat, sms kaga di bales gua kira lu ga sekolah hari ini”

“yaampun segitunya amat sih? Ini hari pertama sekolah kali, masa iya gua ga masuk? Lagian kalo gua ga masuk pasti kan gua bilang ke kalian”

“Nah tuh, bener.. emangnya elu Fan bolos ga ngomong ngomong”

“lah ngapain gua ngomong kalo gua bolos? Yaaaa, selama ini lu juga mau bolos dong? Haa”

“ya, ya abis gua bete sekolah mulu, bolos sekali dua kali gapapa kan?”

“yah ampun Dika, kalo gitu lu juga sama aja kaya si Irfan”

Kali ini si Dika dapet balesannya, dia abis abisan di ketawain sama Seno dan Irfan. Ga lama mereka berdua ngetawain si Dika bell sekolah berbunyi, di ikuti dengan kedatangan si Radit, Radit memberi info kepada Seno kalau dia di tempatkan di 12 IPS 1 dengan Irfan dan mereka ber empat langsung menuju kelas baru mereka.

Di kelas barunya Seno langsung memilih tempat duduk untuk ia dan Irfan dan kali ini ia memilih tempat baris ke 4 dari kiri dan nomer ke 3 dari belakang. Seno memilih tempat itu supaya ia bisa melihat pemandangan dari jendela kelasnya, untuk Seno pemandangan itu cukup bagus pengalih perhatiannya ketika ia bosan melihat papan tulis kelas.

12 IPS 1 ya? hm tahun ini berbalik dari tahun kemarin, kayanya tahun ini siswanya 180 derajat beda banget sama yang kemarin, apa mereka semua yang disini anak anak pinter? Apa banyak persaingan disini? Huh ngomong apa sih gua? Ga ada waktu buat gua mikirin itu, yang penting sekarang gua…

Di lorong lantai 3 sekolah.. 2 orang guru yang bersahabat sejak lama.. melihat kearah yang sama..

“Jadi benar ternyata mereka berdua di dalam kelas yang sama? Sepertinya rekormu akan tetap membaik, bahkan bisa melonjak”

“ya.. Apa kamu benar benar yakin menempatkan anak itu? Kalau seperti ini kelasku akan penuh persaingan”

“persaingan? Tidak mungkin.. Dia bukan orang yang tidak tertarik dengan persaingan, jika pun ada mungkin ia akan menghindarinya”

“apa? Haha selemah itukah dia? Atau sebenarnya dia memang bodoh, dan dia beruntung berada disana?”

“Bukan.. Dia tidak bodoh, ada sesuatu yang lebih darinya yang belum kau ketahui”



Will Be Continue..

Jumat, 01 Agustus 2014

Selamat Tinggal

Pagi ini, aku bangun gak seperti hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara alarm handphoneku yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat handphone mungilku masih tergeletak di samping bantal. Namun kupikir itu gak jadi masalah, soalnya aku masih bisa bangun tepat waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi, aku segera mengenakan seragam putih abu-abu’ku dan setelah itu aku beranjak ke rak sepatu dan segera memakai sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih.

Setelah persiapanku selesai, akupun keluar dari kamar. Kuturuni anak-anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. “Aneh!!!”, pikirku dalam hati. Mulai kapan suasana rumahku jadi sunyi seperti saat ini???
“maaa….”, panggilku memecah kesunyian rumahku. Namun tak ada jawaban sama sekali. “Mungkin mama sedang pergi ke pasar.”, gumamku. Kucoba untuk memanggil papaku,mungkin papa belum berangkat ke kantor pikirku.
“paaa…papa…”,tak ada jawaban yang kudengar. “Apakah semuanya sedang tidak ada di rumah?”,gumamku lagi.
Lalu aku pun duduk di kursi meja makan dan kulihat tak ada satupun lembaran roti tawar dan selai coklat kesukaanku terletak di meja makan, tak seperti hari-hari biasanya. “ Apa mama terlalu sibuk hari ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buat aku?”, gumamku yang masih heran dengan keadaan pagi ini. Namun sulit juga dipertanyakan, karena tak ada seorangpun yang bisa kucerca dengan berbagai pertanyaan dariku. Segera kuambil tas dan map plastik bergambar micky mouse yang sudah kusiapkan dan kuletakkan di atas ranjangku. Kemudian aku siap untuk berangkat sekolah seperti biasanya, meski tanpa aku berpamitan kepada papa dan mama. Segera aku menuju ke garasi dan kilihat mobil jazz putihku tak ada di tempat. Aku pun jadi bingung. “Kemana mobilku? Apa dipinjem papa? Tapi kok gak bilang ya?”, batinku dalam hati.Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa..
***

“Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah panas-panas gini.”, gerutuku sambil mengusap keringat yang mulai membasahi keningku. ( Maklum gak pernah naek angkot,jeeng..!! hahaha..:-D). Namun tak berapa lama datang Tante Rina, tetanggaku, dan kusapa beliau, “ Tante”, sambil kubuka bibirku untuk menampilkan senyum manisku (Gula aja kalah manis...:-D). Namun tak kusangka, Tante Rina yang biasanya ramah sama aku, justru berbalik 180°. Tak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tak ada. Justru ia sibuk dengan handphonenya. Sepertinya handphonenya masih baru, mungkin karena itu Tante Rina jadi super cuek sama aku. Tapi ya sudahlah, kumaklumi. Dan aku konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tanganku dengan gemulai. Setelah tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikanku, akupun mulai menyerah. “Sulit banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamku dengan dongkol sambil mengusap dahi yang sudah berkeringat sebesar jagung. Kemudian kulihat Tante Rina melambaikan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat kupikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Rina aja yang nyegat,langsung berenti. Boro-boro aku, malah gak ada yang mau berenti”. Tapi ya sudahlah, kalu begini aku juga dapet untungnya. Akupun naik ke dalam angkot yang berwana biru itu. Aku sengaja duduk di sisi dekat pintu, karena aku suka mabok darat kalau naik angkot. Hehehe. Kulihat Tante Rina duduk di sisi pojok angkot dengan masih asyik sama handphone barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya kutahan mulut ini untuk menyapanya hingga mengganggu aktivitasnya dengan handphone baru tersebut. Hingga akhirnya sampailah di depan sekolahku dan akupun turun.

Kelas sepi banget, hampir semua teman-teman satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Risa, Dian, dan Oza serta aku yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya. Sengaja aku duduk berjauhan dari mereka, soalnya aku memang gak terlalu suka dengan mereka yang sok kaya dan hobbynya yang cuma shopping..shopping…dan shopping.. Tapi ya udah deh, biarin aja... Bel awal pelajaran pun berbunyi dan kulihat dari jendela terlihat Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..
“ Assalamualaikum, anak- anak. Pagi ini suasana kelas sangat sepi ya. Mungkin lagi berduka semua akan kepergian teman kalian.”, sapa Pak Danu sambil meletakkan map serta buku-buku yang dibawanya ke atas meja.
“ Berduka karna siapa, Pak?”, tanyaku penasaran. Namun tak ada jawaban. Pak Danu justru mengajak berdoa untuk mengawali pelajaran.
“ Sialan!! Kok gak ada yang bilang sih kalo sekarang ini ada mbolos massal?!?!?”, celotehku kesal sambil menyalin tulisan Pak Danu di papan tulis. Di lain sisi, akupun juga memperhatikan Sella yang tak tahu kenapa hari ini terlihat murung ataupun sedih, begitupun dengan tiga sahabatnya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada sedih gitu ya?”, lalu “ mau nanya, males aahhh..biarin deh, emang aku pikirin.” . Kembali aku konsen untuk menulis catatanku lagi.
***

Pulang sekolah akupun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarku yang sudah mendampingi aku kurang lebih 3 tahun. Usianya memang cukup tua dibandingkan aku, kita terpaut usia 6 tahun. Namun bagiku itu tak jadi masalah, yang terpenting adalah ketulusan cintanya ke aku dan papa serta mama pun mendukung hubungan kami. Justru papa dan mama menyarankan agar Rizal segera menikahiku saat usiaku sudah 21 tahun, kira-kira masih 3 tahun lagi. Alasan yang sering dikemukakan adalah takut Rizalnya jadi tambah tua.Hahahaha…:-D

Akupun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya aku saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera kuambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai kukipas-kipaskan ke wajahku untuk mengatasi suhu panas yang ada di dalam angkot ini. “ Gara-gara mobilku pake ng’ilang segala sih, jadi panas-panasan gini deh”, omelku.

Di perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatianku. Setelah angkot yang kutumpangi melewati kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terlihat ada mobil yang kondisinya rusak banget plus peyok, “kayak’nya mobil ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh sampai rusak berat gitu”, pikirku. Namun setelah kuterawang lebih jelas, mobil itu hampir sama dengan mobil yang biasa kukendarai kemanapun aku pergi. Mobil itu berwarna dasar putih, sama seperti kepunyaanku. Hanya saja mobil itu memiliki bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Namun segera ku hilangkan pikiran itu karena aku sudah sampai di tempat tujuan.
Aku pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara aku terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya aku sudah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja kenceng, akhirnya aku lompat deh. Tapi ada untungnya juga, aku jadi gak usah bayar.Hehehehehe….:-)

Gerbang putih yang sudah kusam itu terkunci dengan gembok berukuran sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisikku dalam hati. Aah ya sudah, lebih baik aku pulang ke rumah. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, pikirku sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terlihat sepi.
***

Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah aku bisa sampai di depan rumah. Kupercepat langkahku karena aku sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Tubuh yang sudah penuh dengan keringat serta tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun semakin tak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarku dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Namun kecepatan langkahku semakin berkurang. Kulihat banyak mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, tanyaku heran.
Entah kenapa hatiku serasa dag..dig..dug..saat aku melihat bendera putih berpalang hitam berkibar di atas pagar rumahku. Namun langkahku pun semakin cepat hingga kakiku telah melangkah masuk ke dalam pagar dan melihat banyak orang berkumpul di rumahku. “ Ada apa ini?”, tanyaku dengan perasaan yang tak karuan sambil melihat sekelilingku. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi sedih yang hanya ditampakkan. Kulihat Rani dan hampir semua temanku ada di sisi samping halaman rumahku. Kuhampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pintaku dengan mata yang mulai panas, entah karena apa.

Kupejamkan mataku sesaat untuk menetralkan keadaan mataku. Saat ku buka mataku kembali, kulihat Rizal duduk di sudut belakang halaman rumahku. Terlihat dari jauh bahwa ia sangat sedih. Kuhampiri Rizal dan semakin jelas di mataku bagaimana keadaan Rizal saat ini. Mata yang memiliki bulu mata yang lentik itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Akupun merasa mataku kembali merasa panas karena melihat Rizal dengan keadaan seperti ini. Segera kuletakkan tas dan mapku disamping pot bunga bougenvil dan aku segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kamu nangis?”, tanyaku dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang semakin menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin aku penasaran.”, tanyaku lagi dengan mata yang udah meneteskan air mata tanpa bias kubendung lagi dan ku sentuh tangan Rizal. Tapiii..
“ Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bias menyetuhnya.”, rintihku sambil berdiri, kutinggalkan Rizal sendiri dan berjalan ke dalam rumah. Terlihat Papa sedang memeluk mama yang ternyata sejak tadi sudah menangis dan sesekali kulihat juga jatuh pingsan. Kulihat disisi kiri ruang tamu dan ternyata ada sesosok tubuh kaku berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tak lain itu adalah tubuhku. Ragaku telah mati dan jiwaku tak dapat lagi menghidupkannya. Kuhampiri ragaku dan tersungkur aku disisinya. “ Kini, aku tak lagi bis membahagiakan papa sama mama. Aku tak lagi bisa mewujudkan mimpiku untuk menikah dan mendampingi Rizal serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisku membahana seluruh alam yang tak tahu harus kunamakan alam apa.
***

Teringat kejadian tadi pagi. Pagi-pagi benar sekitar pukul 04.00, aku bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, segera ku berganti pakaian dengan t-shirt bergambar Donal Bebek, tokoh kartun kesayanganku dan celana selutut berwarna hitam. Tak lupa kukenakan sepatu olahragaku yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.

Tepat pukul 04.30, aku segera menuju garasi dan segera menghidupkan mobil jazz putihku dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, aku memang punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, seperti hari-hari biasanya. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada mobil yang kukendarai ini. Dan setelah kusadari ternyata rem mobil’lu blong. Akupun panik, aku tak tahu harus bertindak apa?
“ Tuhan, tolong aku!!!!”, jeritku dalam kekalutanku di dalm mobil.
Namun dari arah berlawanan, kulihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, akupun tak bisa menghindarinya. Akupun tertabrak. Entah bagaimana keadaanku selanjutnya. Yang kutahu, kini aku telah pergi untuk selama-lamanya. Meski aku telah tiada di dunia, tapi aku percaya. Aku akan tetap hidup di hati keluargaku dan di hati Rizal.
SELAMAT TINGGAL…

Kamis, 26 Juni 2014

Cinta Itu Bukan Imajinasi

Tak pernah aku merasakan kebahagiaan. Sangat sulit bagiku untuk mendapatkan teman. Aku tak tau mengapa, tapi yang jelas saat aku mendekat, maka mereka akan pergi menjauhiku. Apa ada yang salah denganku?

Namaku Eliana. Saat ini umurku baru menginjak 15 tahun. Hampir satu bulan berlalu sejak pengumuman kelulusan diumumkan. Saat ini aku sedang mempersiapkan diri karena besok adalah hari pertamaku di SMA. Tak banyak yang aku harapkan. Aku hanya berharap agar saat di SMA nanti aku bisa mendapatkan teman. Walau hanya satu, tapi aku pasti akan merasa sangat senang sekali.

Disini adalah satu-satunya tempat bagiku. Kamar yang selalu membuatku nyaman dan senang walau sedang merasa sedih dan kesepian. Setiap hari yang selalu kulakukan di kamar ini adalah melukis. Ya, melukis adalah hobiku sejak kecil. Karena saat melukis, aku merasa berada di dunia yang berbeda. Dunia yang tak pernah di datangi orang lain. Dunia yang setiap saat bisa kudatangi dan bisa menerimaku. Sebuah dunia baru yang kuciptakan dengan imajinasiku.

Hari yang cerah. Cahaya mentari yang menyilaukan menembus jendela kamarku. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk melukis.

Kini kanvas telah ada dihadapanku. Perlahan-lahan aku mulai melukis sebuah bayangan yang ada dalam pikiranku. Goresan dari cat air mulai membentuk sesosok pria yang belum pernah kukenal.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan lukisan ini. Sekarang yang terlukis di kanvas adalah wajah seorang pria yang sedang tersenyum. Panjang rambutnya hanya sebahu dengan warna hitam yang terlihat cocok dengan warna kulitnya yang putih.
“Andaikan lukisan ini nyata, mungkin aku akan menjadikanmu teman.” Pikirku.

Aku terus memandangi lukisan itu. Jika ia terlahir sebagai manusia, mungkin ia akan menjadi pria yang sangat tampan dan mungkin akan membuatku jatuh cinta padanya.
Tiba-tiba terpikir olehku untuk memberinya nama. Beberapa saat aku terus berpikir dan menatap lukisan itu.
“Ya, aku tahu!” seruku setelah menemukan nama yang kurasa cocok untuk lukisan itu. “Bagaimana kalau Dave? Soalnya sejak dulu aku selalu ingin memiliki seorang kakak laki-laki bernama Dave.” Sambungku sembari menuliskan nama ‘Dave’ di kanvas itu.

Hari semakin malam. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 09.37 malam. Aku mulai mengantuk. Mataku terasa berat. Sebelum tidur aku sempat menggantung lukisan Dave di dinding agar aku bisa melihatnya sebelum tidur. Setelah itu, aku mulai memejamkan mata di tempat tidurku. Kuharap besok aku tak akan terlambat karena besok adalah hari pertamaku di SMA.

Aku berdiri disebuah jalan. Setelah siap dengan seragam yang kugunakan, aku melangkahkan kaki menuju gedung SMA.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Namun saat aku melihat orang yang menepuk bahuku tadi, aku merasa lebih terkejut lagi. Taukah kau siapa yang kulihat? Dia Dave pria yang ada dalam lukisanku.
“Kau pasti mengenalku, kan?” tanyanya sambil tersenyum. “Ya, aku Dave. Kau memang seniman yang berbakat.” Katanya sambil mengedipkan satu matanya.

Aku masih terdiam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Apa ini hanya ilusi? Mungkinkah ini kenyataan? Tapi bagaimana bisa dia menjadi nyata?
“Kenapa? Kau tak suka aku ada disini?” pertanyaan Dave membuyakan lamunanku.
“B-bukan… t-tapi kau kan…”
“Ya, kau benar, aku hanya sebuah lukisan. Tapi bukankah kau sendiri yang meminta agar aku menjadi nyata dan menjadi temanmu?”
“Aku?” otakku terus berpikir dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Dave. Apa harapan seperti ini bisa terwujud? Atau ini adalah sihir? Apa mungkin aku bermimpi? Tapi rasanya ini bukan mimpi.
“Hey, nggak usah kebanyakan mikir, deh!” kata Dave. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. “Ayo masuk! Nanti kita terlambat lagi.” Ia menarik tanganku dan berlari memasuki sekolah.

Sampai detik ini aku masih terus berpikir. Bagaimana bisa Dave ada didunia ini? Berulang kali aku menganggap ini mimpi. Tapi aku merasa ini terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Tapi disamping rasa bingung itu, ada perasaan senang terselip di hatiku, karena baru kali ini aku melihat lukisanku bisa hidup dan berbicara denganku. Ya, Tuhan, bolehkah aku berharap kalau ini nyata?

Setiap hari kami selalu bersama. Saat sekolah maupun pulang sekolah. Ya, mau bagaimana lagi? Dave itu kan asalnya dari lukisan yang kubuat, jadi setiap pulang sekolah, kami akan pulang bersama ke rumahku karena rumah Dave adalah lukisan yang kini ada didalam kamarku.

Meski ia hanya lukisan, tapi aku selalu merasa kalau Dave memiliki hati. Setiap ada yang meminta bantuan, maka ia akan membantu orang itu. Seperti aku yang sering mengeluh padanya. Mungkin jika orang lain mendengar keluhanku setiap hari, maka orang itu pasti akan merasa bosan dan pergi. Tapi tidak dengan Dave. Dengan antusias ia mendengarkan keluhanku dan saat aku selesai, maka ia akan memberiku solusi dan semangat untuk menghadapi masalah yang sedang kuhadapi. Hal itu membuat Dave sedikit demi sedikit masuk ke celah-celah hatiku hingga membuatku jatuh cinta padanya.

Ingin sekali aku mengutarakan perasaanku padanya, tapi aku selalu mengurungkan niat itu. Bukan karena aku membencinya. Tapi bayangkan saja. Dia hanya sebuah lukisan sementara aku adalah manusia. Jadi bagaimana bisa aku mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya?

Bel istirahat berbunyi. Dengan perut lapar aku berjalan menuju kantin. Apalagi pelajaran tadi terasa sangat menyulitkan bagiku hingga membuat perutku semakin lapar.

Oh, menyebalkan sekali. Saat sampai, suasana kantin sangat ramai. Kulihat ke sekelilingku, tak tersisa satu pun meja untuk makan. Dengan rasa kecewa aku beranjak kembali menuju kelas.

Berbeda dengan suasana di kantin. Saat ini kelas nampak sepi. Yang ada hanya ada beberapa murid wanita yang sedang mengobrol sementara di bangku paling belakang, kulihat Dave sedang asyik mengotak-atik bukunya. Sepertinya ia sedang menggambar sesuatu.
“Woi!” seruku saat menghampirinya.
“Apa?” hanya kata itu yang dia ucapkan.
“Cuek banget.” Kataku setelah duduk disampingnya. “Ng… gambar apa, tuh?” tanyaku penasaran.

Dave mengangkat bukunya dan memperlihatkannya padaku. “Ini?” tanya Dave.

Rasanya aku ingin tertawa melihat gambarnya. Tak bisa kukatakan dengan sebuah kata-kata, tapi yang jelas gambarnya itu terlihat lucu bagiku. “Lukisan itu nggak bisa melukis, ya?” ejekku.
“Kenapa? Kau mau menghina?” Dave balik bertanya. Ia menatap gambarnya sendiri. Kulihat ia tersenyum tipis. Sepertinya gambar itu juga terlihat lucu baginya. “Iya juga, ya. Gambarku memang aneh.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hey, bolehkah aku bertanya?” tanyaku sedikit ragu.

Dave berhenti tertawa. Kini ia menatapku. “Tentu.” Jawabnya singkat.
“Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau hanya sebuah lukisan? Apa sekarang aku sedang bermimpi?” tanyaku.
“Mimpi? Apa kau berpikir begitu?” Dave balik bertanya.
“Ya, begitulah.”
“Kalau begitu kau benar. Ini semua hanyalah mimpi. Ini adalah dunia yang kau ciptakan dengan imajinasimu. Aku juga bagian dari imajinasimu.” Jawab Dave. Aku tertegun mendengar jawabannya itu.
“Itu artinya kau tidak nyata?”
“Ya. Saat kau terbangun dari tidurmu, maka aku akan menghilang. Tapi hal itu akan lebih cepat terjadi jika kau mengatakan suka padaku dari hatimu yang paling dalam.”

Rasa kecewa menghampiriku. Ternyata semua ini hanya mimpi. Dia bukanlah kenyataan. Dia bilang kalau aku mengatakan suka maka ia akan menghilang lebih cepat sebelum berakhir waktuku untuk tidur. Tapi bagaimana dengan perasaanku?
“Tenang saja! Kau tak perlu memasang tampang sedih seperti itu.” Ujar Dave dengan wajah tenang sambil tersenyum.
“Kenapa? Kenapa kau masih bisa tersenyum?” tanyaku sambil meneteskan air mata.
“Apa maksudmu?” tanya Dave bingung.
“Kenapa kau masih bisa tersenyum saat mengatakan hal itu? apa kau senang kalau harus berpisah?” tanyaku. Aku menatap wajahnya yang terlihat bingung.
“Eliana…”
“Tapi aku tidak senang. Aku tak mau berpisah denganmu. Aku tak mau berpisah dengan orang yang kusuka. Aku menyukaimu apa kau tak tau itu? Apa kau tak menyadarinya selama ini?” tanpa berpikir panjang aku mengatakan hal itu. Meski merasa menyesal, tapi semua sudah terjadi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.
“K-kau…”
“Maaf.” Lirihku.

Tiba-tiba Dave tersenyum. Ia menarik tanganku lalu memelukku. Tak bisa kurasakan suhu tubuhnya. Entah itu dingin atau hangat aku tetap tak bisa merasakannya karena ia hanya sebuah lukisan.
“Akhirnya kau mengatakannya juga.” Ujar Dave.
“Apa maksudmu?” tanyaku.

Dave melepaskanku. Kedua tangannya menghapus air mata di pipiku. “Sejak kita bertemu, aku tau kalau pada akhirnya kau akan mengatakan suka padaku. Meski awalnya aku mencoba untuk tak menghiraukannya, tapi entah kenapa aku juga menyukaimu.” Jawabnnya sambil tersenyum.
“Kenapa kau tak memberi tauku sejak awal? Jika aku tau, aku pasti tak akan mengatakan suka padamu.”
“Mau bagaimana lagi? Kau juga telah membuatku jatuh cinta padamu.”. “Didunia ini, aku tercipta sebagai lukisan yang seharusnya tak memiliki hati dan perasaan. Tapi karena kau telah menciptakanku dengan hati dan perasaanmu, maka kau dapat menciptakan hati dalam diriku hingga aku bisa merasakan cinta.”

Air mataku kembali menetes. Tak bisa kubayangkan apakah aku bisa membiarkan Dave pergi begitu saja. Pasti rasanya sakit. Apalagi Dave adalah cinta pertamaku. Tapi aku tak bisa memilikinya dalam nyata. Aku hanya bisa memilikinya dalam imajinasi karena dia hanyalah imajinasiku.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Eliana.” Ucap Dave.

Sebelum pergi Dave sempat memberiku sebuah hadiah, yaitu sebuah cium manis di keningku. Harusnya aku merasa senang, tapi kenapa aku malah merasa sakit? Apa karena Dave akan pergi?
“Kuharap kita bisa bertemu lagi.” Kata Dave.

Perlaan-lahan semuanya menghilang. Bukan hanya Dave, tapi semua murid dan gedung sekolah juga ikut sirna. Kini yang kulihat hanyalah kegelapan yang pekat mengelilingiku tanpa sedikit pun cahaya yang menerangi pandanganku.

Aku terbangun dan kembali ke kamarku yang terang. Benda pertama yang kulihat adalah lukisan Dave yang terpajang di dinding. Tanpa sadar tiba-tiba aku menangis. Masih melekat dalam benakku mimpi indah itu. Bisakah mimpi itu terulang kembali? Masih bisakah aku bertemu dengannya? Aku harap semua itu bisa terjadi.

Suara jam weker mendengung di telingaku. Tanpa sadar aku tertidur di lantai saat menangis tadi. Kulihat jam telah menunjukkan pukul 05.45. Meski masih ingin berada di dekat lukisan Dave, tapi lebih memilih untuk bersiap-siap pergi ke sekolah karena aku sadar kalau sekarang aku tak lagi berada di dunia mimpi atau imajinasi tapi sekarang aku telah berada di dunia nyata. Tempat yang bisa dikunjungi Dave karena ia hanyalah imajinasiku.

Sekolah ini terlihat luas. Pasti ada banyak murid yang bersekolah disini. Kuharap aku akan mendapat teman baru disini.

Aku dan beberapa murid kelas 1 berjalan mengikuti 2 orang kakak kelas yang merupakan osis di sekolah ini. Kami membentuk barisan dan berjalan menuju kelas baru kami. Dan saat berhenti kami sampai disini. Dan inilah kelas yang akan kami tempati.
“Tunggu!” seru seorang osis. “Karena kalian masih dalam masa ospek, jadi biar kami yang mengatur tempat duduk kalian. Kalo nggak terima, berarti harus siap terima hukuman.” Sambungnya.

Kulihat beberapa siswa merasa kesal. Aku rasa mereka ingin duduk bersama temannya masing-masing. Hanya saja mereka tak berani protes karena takut akan menerima hukuman. Akulah satu-satunya orang yang menerima peraturan itu dengan senang hati karena kalau pun peraturan itu tidak ada, aku juga akan duduk dengan orang yang tak kukenal. Jadi apa bedanya?

Kedua osis itu mulai beraksi. Mereka menempatkan satu-persatu murid ke bangku yang mereka pilih sesuka hati mereka. Tidak hanya itu, tapi mereka juga mengatur siapa orang yang akan duduk dengan kami.
“Kamu!” panggil seorang osis. Ia menunjuk kearahku. “Duduk disana!” katanya sambil menunjuk bangku urutan ketiga jika dihitung dari depan.

Aku berjalan menuju bangku itu. Syukurlah, kukira tadi aku akan mendapatkan bangku rusak seperti teman-teman yang lain, tapi ternyata aku mendapat bangku yang masih terlihat bagus dan terawat.
“Hey, kamu yang berdiri di depan pintu!” panggilan terahir itu ditujukan pada seorang pria. Kebetulan dia adalah orang terakhir yang belum mendapat bangku.

Aku memperhatikan pria itu. Rasanya dia sangat mirip dengan orang yang kukenal. Apa kami pernah bertemu?
“Duduk di bangku yang masih kosong itu!”

Setelah mendengar perintah itu, pria tadi berjalan menuju bangku yang dimaksud osis itu.

Saat ia berjalan, aku terus memandanginya karena aku yakin aku pernah bertemu dengannya. Hanya saja aku tak ingat dimana.
Tiba-tiba ia berhenti di dekat bangkuku. “Disini?” tanyanya sambil menunjuk kursi disebelahku yang kebetulan masih kosong. OSIS itu menganggukkan kepalanya. Tanpa membuang waktu ia meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.
“Dave?” kataku setelah mengenali wajahnya.
“Dave?” pria itu nampak bingung. “Dari mana kau tau namaku? Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.
“Tidak mungkin. Apa aku bermimpi lagi?”

Kucoba memukul tanganku sendiri dan ternyata rasanya sakit. Apa artinya ini bukan mimpi? Apa ini kenyataan? Ya, ini memang kenyataan. Ternyata Dave bukan hanya imajinasiku.

“Hey, dimana kita pernah bertemu?” tanyanya lagi.
“Kurasa dalam imajinasiku.” Jawabku sambil tersenyum.
“Imajinasi? Maksudmu?”
“Lupakan saja!” kataku mencoba menghentikan pembicaraan ini.
“Ayolah, beritau aku!” katanya penasaran. Ia terus bertanya sambil memukul-mukul tanganku.
“Kalian berdua!” seru seorang OSIS sambil menunjuk kami. “Pagi-pagi udah pacaran. Maju kalian!” aku tertegun mendengar ucapannya.
Huh, menyebalkan. Harusnya tadi aku tak memulai pembicaraan itu. Tapi terlanjur, sekarang pasti aku kena hukuman.
“Hey, ayo maju. Nanti hukumannya bisa dua kali lipat lebih berat, loh.” Bisik Dave sambil mengedipkan satu matanya, sama seperti Dave dalam mimpiku.
Aku menghela nafas. Benar juga apa katanya. Kalau nggak berdiri bisa-bisa kedua OSIS itu menambahkan humuman yang lebih berat lagi. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki ke depan kelas. Aku hanya bisa menatap ke depan kelas karena merasa malu. Bagaimana tidak? Sekarang seisi kelas mentertawakan kami.
Taukah kalian hukuman apa yang diberikan OSIS itu? kalau hanya disuruh membersihkan toilet aku masih bisa terima. Tapi ini? Kedua OSIS itu menyuruh Dave untuk menyatakan cinta padaku didepan seluruh penghuni kelas. Oh, Tuhan, betapa malunya aku hari ini.
“Hukuman yang menyenangkan, kan?” bisik Dave setelah melaksanakan hukumannya. Tak hanya itu, tapi ia juga masih bisa tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya saat mengucapkan kata-kata itu.
“Dasar bodoh!” balasku jengkel.
Hari ini memang menyebalkan. Meski begitu aku yakin ini akan menjadi awal yang baik. Apalagi setelah bertemu Dave dalam dunia nyata. Itu artinya dia bukan hanya imajinasiku. Dan yang aku sadari adalah, imajinasi tak hanya berada dalam pikiranmu, tapi mungkin ia juga bisa muncul dalam kehidupanmu.
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About