RSS
Facebook
Twitter

Kamis, 26 Juni 2014

Cinta Itu Bukan Imajinasi

Tak pernah aku merasakan kebahagiaan. Sangat sulit bagiku untuk mendapatkan teman. Aku tak tau mengapa, tapi yang jelas saat aku mendekat, maka mereka akan pergi menjauhiku. Apa ada yang salah denganku?

Namaku Eliana. Saat ini umurku baru menginjak 15 tahun. Hampir satu bulan berlalu sejak pengumuman kelulusan diumumkan. Saat ini aku sedang mempersiapkan diri karena besok adalah hari pertamaku di SMA. Tak banyak yang aku harapkan. Aku hanya berharap agar saat di SMA nanti aku bisa mendapatkan teman. Walau hanya satu, tapi aku pasti akan merasa sangat senang sekali.

Disini adalah satu-satunya tempat bagiku. Kamar yang selalu membuatku nyaman dan senang walau sedang merasa sedih dan kesepian. Setiap hari yang selalu kulakukan di kamar ini adalah melukis. Ya, melukis adalah hobiku sejak kecil. Karena saat melukis, aku merasa berada di dunia yang berbeda. Dunia yang tak pernah di datangi orang lain. Dunia yang setiap saat bisa kudatangi dan bisa menerimaku. Sebuah dunia baru yang kuciptakan dengan imajinasiku.

Hari yang cerah. Cahaya mentari yang menyilaukan menembus jendela kamarku. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk melukis.

Kini kanvas telah ada dihadapanku. Perlahan-lahan aku mulai melukis sebuah bayangan yang ada dalam pikiranku. Goresan dari cat air mulai membentuk sesosok pria yang belum pernah kukenal.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan lukisan ini. Sekarang yang terlukis di kanvas adalah wajah seorang pria yang sedang tersenyum. Panjang rambutnya hanya sebahu dengan warna hitam yang terlihat cocok dengan warna kulitnya yang putih.
“Andaikan lukisan ini nyata, mungkin aku akan menjadikanmu teman.” Pikirku.

Aku terus memandangi lukisan itu. Jika ia terlahir sebagai manusia, mungkin ia akan menjadi pria yang sangat tampan dan mungkin akan membuatku jatuh cinta padanya.
Tiba-tiba terpikir olehku untuk memberinya nama. Beberapa saat aku terus berpikir dan menatap lukisan itu.
“Ya, aku tahu!” seruku setelah menemukan nama yang kurasa cocok untuk lukisan itu. “Bagaimana kalau Dave? Soalnya sejak dulu aku selalu ingin memiliki seorang kakak laki-laki bernama Dave.” Sambungku sembari menuliskan nama ‘Dave’ di kanvas itu.

Hari semakin malam. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 09.37 malam. Aku mulai mengantuk. Mataku terasa berat. Sebelum tidur aku sempat menggantung lukisan Dave di dinding agar aku bisa melihatnya sebelum tidur. Setelah itu, aku mulai memejamkan mata di tempat tidurku. Kuharap besok aku tak akan terlambat karena besok adalah hari pertamaku di SMA.

Aku berdiri disebuah jalan. Setelah siap dengan seragam yang kugunakan, aku melangkahkan kaki menuju gedung SMA.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Sontak aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Namun saat aku melihat orang yang menepuk bahuku tadi, aku merasa lebih terkejut lagi. Taukah kau siapa yang kulihat? Dia Dave pria yang ada dalam lukisanku.
“Kau pasti mengenalku, kan?” tanyanya sambil tersenyum. “Ya, aku Dave. Kau memang seniman yang berbakat.” Katanya sambil mengedipkan satu matanya.

Aku masih terdiam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Apa ini hanya ilusi? Mungkinkah ini kenyataan? Tapi bagaimana bisa dia menjadi nyata?
“Kenapa? Kau tak suka aku ada disini?” pertanyaan Dave membuyakan lamunanku.
“B-bukan… t-tapi kau kan…”
“Ya, kau benar, aku hanya sebuah lukisan. Tapi bukankah kau sendiri yang meminta agar aku menjadi nyata dan menjadi temanmu?”
“Aku?” otakku terus berpikir dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Dave. Apa harapan seperti ini bisa terwujud? Atau ini adalah sihir? Apa mungkin aku bermimpi? Tapi rasanya ini bukan mimpi.
“Hey, nggak usah kebanyakan mikir, deh!” kata Dave. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. “Ayo masuk! Nanti kita terlambat lagi.” Ia menarik tanganku dan berlari memasuki sekolah.

Sampai detik ini aku masih terus berpikir. Bagaimana bisa Dave ada didunia ini? Berulang kali aku menganggap ini mimpi. Tapi aku merasa ini terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Tapi disamping rasa bingung itu, ada perasaan senang terselip di hatiku, karena baru kali ini aku melihat lukisanku bisa hidup dan berbicara denganku. Ya, Tuhan, bolehkah aku berharap kalau ini nyata?

Setiap hari kami selalu bersama. Saat sekolah maupun pulang sekolah. Ya, mau bagaimana lagi? Dave itu kan asalnya dari lukisan yang kubuat, jadi setiap pulang sekolah, kami akan pulang bersama ke rumahku karena rumah Dave adalah lukisan yang kini ada didalam kamarku.

Meski ia hanya lukisan, tapi aku selalu merasa kalau Dave memiliki hati. Setiap ada yang meminta bantuan, maka ia akan membantu orang itu. Seperti aku yang sering mengeluh padanya. Mungkin jika orang lain mendengar keluhanku setiap hari, maka orang itu pasti akan merasa bosan dan pergi. Tapi tidak dengan Dave. Dengan antusias ia mendengarkan keluhanku dan saat aku selesai, maka ia akan memberiku solusi dan semangat untuk menghadapi masalah yang sedang kuhadapi. Hal itu membuat Dave sedikit demi sedikit masuk ke celah-celah hatiku hingga membuatku jatuh cinta padanya.

Ingin sekali aku mengutarakan perasaanku padanya, tapi aku selalu mengurungkan niat itu. Bukan karena aku membencinya. Tapi bayangkan saja. Dia hanya sebuah lukisan sementara aku adalah manusia. Jadi bagaimana bisa aku mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya?

Bel istirahat berbunyi. Dengan perut lapar aku berjalan menuju kantin. Apalagi pelajaran tadi terasa sangat menyulitkan bagiku hingga membuat perutku semakin lapar.

Oh, menyebalkan sekali. Saat sampai, suasana kantin sangat ramai. Kulihat ke sekelilingku, tak tersisa satu pun meja untuk makan. Dengan rasa kecewa aku beranjak kembali menuju kelas.

Berbeda dengan suasana di kantin. Saat ini kelas nampak sepi. Yang ada hanya ada beberapa murid wanita yang sedang mengobrol sementara di bangku paling belakang, kulihat Dave sedang asyik mengotak-atik bukunya. Sepertinya ia sedang menggambar sesuatu.
“Woi!” seruku saat menghampirinya.
“Apa?” hanya kata itu yang dia ucapkan.
“Cuek banget.” Kataku setelah duduk disampingnya. “Ng… gambar apa, tuh?” tanyaku penasaran.

Dave mengangkat bukunya dan memperlihatkannya padaku. “Ini?” tanya Dave.

Rasanya aku ingin tertawa melihat gambarnya. Tak bisa kukatakan dengan sebuah kata-kata, tapi yang jelas gambarnya itu terlihat lucu bagiku. “Lukisan itu nggak bisa melukis, ya?” ejekku.
“Kenapa? Kau mau menghina?” Dave balik bertanya. Ia menatap gambarnya sendiri. Kulihat ia tersenyum tipis. Sepertinya gambar itu juga terlihat lucu baginya. “Iya juga, ya. Gambarku memang aneh.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hey, bolehkah aku bertanya?” tanyaku sedikit ragu.

Dave berhenti tertawa. Kini ia menatapku. “Tentu.” Jawabnya singkat.
“Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau hanya sebuah lukisan? Apa sekarang aku sedang bermimpi?” tanyaku.
“Mimpi? Apa kau berpikir begitu?” Dave balik bertanya.
“Ya, begitulah.”
“Kalau begitu kau benar. Ini semua hanyalah mimpi. Ini adalah dunia yang kau ciptakan dengan imajinasimu. Aku juga bagian dari imajinasimu.” Jawab Dave. Aku tertegun mendengar jawabannya itu.
“Itu artinya kau tidak nyata?”
“Ya. Saat kau terbangun dari tidurmu, maka aku akan menghilang. Tapi hal itu akan lebih cepat terjadi jika kau mengatakan suka padaku dari hatimu yang paling dalam.”

Rasa kecewa menghampiriku. Ternyata semua ini hanya mimpi. Dia bukanlah kenyataan. Dia bilang kalau aku mengatakan suka maka ia akan menghilang lebih cepat sebelum berakhir waktuku untuk tidur. Tapi bagaimana dengan perasaanku?
“Tenang saja! Kau tak perlu memasang tampang sedih seperti itu.” Ujar Dave dengan wajah tenang sambil tersenyum.
“Kenapa? Kenapa kau masih bisa tersenyum?” tanyaku sambil meneteskan air mata.
“Apa maksudmu?” tanya Dave bingung.
“Kenapa kau masih bisa tersenyum saat mengatakan hal itu? apa kau senang kalau harus berpisah?” tanyaku. Aku menatap wajahnya yang terlihat bingung.
“Eliana…”
“Tapi aku tidak senang. Aku tak mau berpisah denganmu. Aku tak mau berpisah dengan orang yang kusuka. Aku menyukaimu apa kau tak tau itu? Apa kau tak menyadarinya selama ini?” tanpa berpikir panjang aku mengatakan hal itu. Meski merasa menyesal, tapi semua sudah terjadi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan.
“K-kau…”
“Maaf.” Lirihku.

Tiba-tiba Dave tersenyum. Ia menarik tanganku lalu memelukku. Tak bisa kurasakan suhu tubuhnya. Entah itu dingin atau hangat aku tetap tak bisa merasakannya karena ia hanya sebuah lukisan.
“Akhirnya kau mengatakannya juga.” Ujar Dave.
“Apa maksudmu?” tanyaku.

Dave melepaskanku. Kedua tangannya menghapus air mata di pipiku. “Sejak kita bertemu, aku tau kalau pada akhirnya kau akan mengatakan suka padaku. Meski awalnya aku mencoba untuk tak menghiraukannya, tapi entah kenapa aku juga menyukaimu.” Jawabnnya sambil tersenyum.
“Kenapa kau tak memberi tauku sejak awal? Jika aku tau, aku pasti tak akan mengatakan suka padamu.”
“Mau bagaimana lagi? Kau juga telah membuatku jatuh cinta padamu.”. “Didunia ini, aku tercipta sebagai lukisan yang seharusnya tak memiliki hati dan perasaan. Tapi karena kau telah menciptakanku dengan hati dan perasaanmu, maka kau dapat menciptakan hati dalam diriku hingga aku bisa merasakan cinta.”

Air mataku kembali menetes. Tak bisa kubayangkan apakah aku bisa membiarkan Dave pergi begitu saja. Pasti rasanya sakit. Apalagi Dave adalah cinta pertamaku. Tapi aku tak bisa memilikinya dalam nyata. Aku hanya bisa memilikinya dalam imajinasi karena dia hanyalah imajinasiku.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal Eliana.” Ucap Dave.

Sebelum pergi Dave sempat memberiku sebuah hadiah, yaitu sebuah cium manis di keningku. Harusnya aku merasa senang, tapi kenapa aku malah merasa sakit? Apa karena Dave akan pergi?
“Kuharap kita bisa bertemu lagi.” Kata Dave.

Perlaan-lahan semuanya menghilang. Bukan hanya Dave, tapi semua murid dan gedung sekolah juga ikut sirna. Kini yang kulihat hanyalah kegelapan yang pekat mengelilingiku tanpa sedikit pun cahaya yang menerangi pandanganku.

Aku terbangun dan kembali ke kamarku yang terang. Benda pertama yang kulihat adalah lukisan Dave yang terpajang di dinding. Tanpa sadar tiba-tiba aku menangis. Masih melekat dalam benakku mimpi indah itu. Bisakah mimpi itu terulang kembali? Masih bisakah aku bertemu dengannya? Aku harap semua itu bisa terjadi.

Suara jam weker mendengung di telingaku. Tanpa sadar aku tertidur di lantai saat menangis tadi. Kulihat jam telah menunjukkan pukul 05.45. Meski masih ingin berada di dekat lukisan Dave, tapi lebih memilih untuk bersiap-siap pergi ke sekolah karena aku sadar kalau sekarang aku tak lagi berada di dunia mimpi atau imajinasi tapi sekarang aku telah berada di dunia nyata. Tempat yang bisa dikunjungi Dave karena ia hanyalah imajinasiku.

Sekolah ini terlihat luas. Pasti ada banyak murid yang bersekolah disini. Kuharap aku akan mendapat teman baru disini.

Aku dan beberapa murid kelas 1 berjalan mengikuti 2 orang kakak kelas yang merupakan osis di sekolah ini. Kami membentuk barisan dan berjalan menuju kelas baru kami. Dan saat berhenti kami sampai disini. Dan inilah kelas yang akan kami tempati.
“Tunggu!” seru seorang osis. “Karena kalian masih dalam masa ospek, jadi biar kami yang mengatur tempat duduk kalian. Kalo nggak terima, berarti harus siap terima hukuman.” Sambungnya.

Kulihat beberapa siswa merasa kesal. Aku rasa mereka ingin duduk bersama temannya masing-masing. Hanya saja mereka tak berani protes karena takut akan menerima hukuman. Akulah satu-satunya orang yang menerima peraturan itu dengan senang hati karena kalau pun peraturan itu tidak ada, aku juga akan duduk dengan orang yang tak kukenal. Jadi apa bedanya?

Kedua osis itu mulai beraksi. Mereka menempatkan satu-persatu murid ke bangku yang mereka pilih sesuka hati mereka. Tidak hanya itu, tapi mereka juga mengatur siapa orang yang akan duduk dengan kami.
“Kamu!” panggil seorang osis. Ia menunjuk kearahku. “Duduk disana!” katanya sambil menunjuk bangku urutan ketiga jika dihitung dari depan.

Aku berjalan menuju bangku itu. Syukurlah, kukira tadi aku akan mendapatkan bangku rusak seperti teman-teman yang lain, tapi ternyata aku mendapat bangku yang masih terlihat bagus dan terawat.
“Hey, kamu yang berdiri di depan pintu!” panggilan terahir itu ditujukan pada seorang pria. Kebetulan dia adalah orang terakhir yang belum mendapat bangku.

Aku memperhatikan pria itu. Rasanya dia sangat mirip dengan orang yang kukenal. Apa kami pernah bertemu?
“Duduk di bangku yang masih kosong itu!”

Setelah mendengar perintah itu, pria tadi berjalan menuju bangku yang dimaksud osis itu.

Saat ia berjalan, aku terus memandanginya karena aku yakin aku pernah bertemu dengannya. Hanya saja aku tak ingat dimana.
Tiba-tiba ia berhenti di dekat bangkuku. “Disini?” tanyanya sambil menunjuk kursi disebelahku yang kebetulan masih kosong. OSIS itu menganggukkan kepalanya. Tanpa membuang waktu ia meletakkan tasnya dan duduk di kursinya.
“Dave?” kataku setelah mengenali wajahnya.
“Dave?” pria itu nampak bingung. “Dari mana kau tau namaku? Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.
“Tidak mungkin. Apa aku bermimpi lagi?”

Kucoba memukul tanganku sendiri dan ternyata rasanya sakit. Apa artinya ini bukan mimpi? Apa ini kenyataan? Ya, ini memang kenyataan. Ternyata Dave bukan hanya imajinasiku.

“Hey, dimana kita pernah bertemu?” tanyanya lagi.
“Kurasa dalam imajinasiku.” Jawabku sambil tersenyum.
“Imajinasi? Maksudmu?”
“Lupakan saja!” kataku mencoba menghentikan pembicaraan ini.
“Ayolah, beritau aku!” katanya penasaran. Ia terus bertanya sambil memukul-mukul tanganku.
“Kalian berdua!” seru seorang OSIS sambil menunjuk kami. “Pagi-pagi udah pacaran. Maju kalian!” aku tertegun mendengar ucapannya.
Huh, menyebalkan. Harusnya tadi aku tak memulai pembicaraan itu. Tapi terlanjur, sekarang pasti aku kena hukuman.
“Hey, ayo maju. Nanti hukumannya bisa dua kali lipat lebih berat, loh.” Bisik Dave sambil mengedipkan satu matanya, sama seperti Dave dalam mimpiku.
Aku menghela nafas. Benar juga apa katanya. Kalau nggak berdiri bisa-bisa kedua OSIS itu menambahkan humuman yang lebih berat lagi. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki ke depan kelas. Aku hanya bisa menatap ke depan kelas karena merasa malu. Bagaimana tidak? Sekarang seisi kelas mentertawakan kami.
Taukah kalian hukuman apa yang diberikan OSIS itu? kalau hanya disuruh membersihkan toilet aku masih bisa terima. Tapi ini? Kedua OSIS itu menyuruh Dave untuk menyatakan cinta padaku didepan seluruh penghuni kelas. Oh, Tuhan, betapa malunya aku hari ini.
“Hukuman yang menyenangkan, kan?” bisik Dave setelah melaksanakan hukumannya. Tak hanya itu, tapi ia juga masih bisa tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya saat mengucapkan kata-kata itu.
“Dasar bodoh!” balasku jengkel.
Hari ini memang menyebalkan. Meski begitu aku yakin ini akan menjadi awal yang baik. Apalagi setelah bertemu Dave dalam dunia nyata. Itu artinya dia bukan hanya imajinasiku. Dan yang aku sadari adalah, imajinasi tak hanya berada dalam pikiranmu, tapi mungkin ia juga bisa muncul dalam kehidupanmu.

Selasa, 24 Juni 2014

Namaku Seno

Setelah libur panjang yang lama berlalu akhirnya semua ini berakhir juga. sekarang saatnya,  yang berlalu biarlah berlalu, sekarang saatnya bagiku untuk memulai hidup baru. "Nak, jam berapa kamu mau berangkat sekolah?, ini hari pertama kamu, jangan sampai kamu mengacaukannya" panggilan ibuku sudah terdengar berkali kali dari depan kamar, aku sendiri masih berada di depan cermin..
"Jangan sampai terikat dengan siapapun, jangan sampai terlalu mencari perhatian, anggap saja disana cuman ada lo! hanya elo! lo berangkat sekolah tepat waktu, dan pulang tepat waktu, that's it!! ga ada waktu untuk dekat sama orang lain, lo sekolah dan lulus dari sana, dan berjanji ga akan pernah balik ke tempat itu lagi, dan benar benar ninggalin semua hal yang ada disana"
oke, aku siap.. kali ini aku tidak boleh mengacaukan apapun, aku hanya siswa biasa. 
Namaku Seno..
lumayan jauh untuk sampai ke sekolah baruku tetapi aku masih bisa datang tepat waktu, kebetulan ini hari jumat, jadi tidak ada upacara untuk penyambutan siswa baru disekolah, kita semua langsung dikumpulkan di aula sekolah untuk mendengarkan pembagian kelas.
20 menit kemudian... semua nama telah disebutkan, dan aku menjadi bagian di kelas 11 IPS 3 tanpa basa basi aku langsung menuju kelas dimana aku belajar selama 1 tahun ini, tanpa melihat lihat aku langsung memilih tempat dimana aku duduk, biasanya siswa lain mencari teman untuk duduk sebangku dengannya.
Aku tidak butuh itu.. Aku duduk di posisi paling belakang dan paling kanan di kelas, bagiku hanya buang buang waktu untuk memilih tempat duduk di kelas, aku langsung menaruh tas ku disana dan pergi ke depan kelas.
Hari pertamaku sama seperti siswa baru lainnya. Tidak ada teman untuk berbicara, yang kulakukan hanya melihat lapangan basket sekolah dari lantai 2 yang kebetulan tidak jauh dari kelasku. 30 menit hanya itu yang aku lakukan sampai seorang guru datang dan masuk ke kelasku, beberapa siswa di kelas memperhatikanku, ya wajar saja mungkin mereka baru melihatku berada disekolah ini, dan aku mengacuhkannya..
tidak ada yang spesial selama pelajaran, guru itu hanya memperkenalkan dirinya di depan kelas. Namanya Ibu Yeni, dia mengajar bahasa Indonesia. hanya saja sambutan anak anak di kelas ini kurang ramah padanya, padahal guru ini baik kalau dilihat dari perilaku dan tutur katanya. Aku rasa aku berada di kelas dengan anak anak yang penuh dengan kenakalan..
Bell istirahatpun berbunyi, aku bekeliling sekolah ini sendirian, ya anggap saja untuk mengenal tempat yang akan aku singgahi untuk 2 tahun kedepan, saat sedang berjalan aku melihat papan mading yang kosong, Aneh, ko mading di biarkan kosong seperti ini?
"Sedang berjalan jalan Seno? masih belum dapat teman disini ya?" suara orang ini membuat aku terkejut, tiba tiba dia datang dan langsung menyebut namaku. Namanya Pak Sentot, kebetulan dia adalah wali kelas ku "Kebetulan bapak mendengar dari salah satu guru bahwa ada siswa yang baru pindah ke sekolah ini yang menjadi wali murid bapak?" 
"oh iya pak, kebetulan saya pindahan dari cibinong" 
"oke, bisa kita mengobrol sebentar?, itupun kalau kamu mau?" 
"boleh pak, mari"
"hm, madingnya kosong ya?, kamu suka baca mading?"
"em, ga terlalu ko pak, biasanya kalau liat mading cuman iseng aja, paling ya liat artikel atau cerpen"
"kamu suka baca cerpen?, hm ga heran anak kaya kamu suka ngeliat mading ya?"
"ya kalau lagi nganggur biasanya ada aja sih pak cerita cerita yang bisa saya bikinin cerpen, tapi ga gerlalu sering hehe"
"mungkin kapan kapan kamu bisa menempel cerpen kamu disini, ya supaya mading ini tidak terlihat kosong kosong sekali"
"iya pak, Insaallah kalau ada waktu saya bakal nempelin cerpen saya disini"
pembicaraan singkat tadi membuktikan satu hal. Mungkin pak Sentot merupakan orang yang sangat perhatian, yang aku lihat sepertinya dia sangat memperhatikan setiap murid muridnya.
Satu semester telah aku lalui disekolah ini, keadaanku masih sama saja ketika aku menjadi siswa baru disini, tidak ada teman yang bisa diajak bicara, sekalinya ada pembicaraan itu hanya pembicaraan seputar sekolah, yang seperti kalian tau. Tugas, remedial ulangan, ulangan harian, dan pembicaraan seputar pelajaran yang menjadi soal ulangan di semester satu, setidaknya dengan sifatku yang seperti ini, siswa siswa yang lain tidak perlu mengenaliku secara dekat, aku hanya ingin cepat cepat lulus dari sekolah ini.
Suatu hari, pak Sentot memangilku dan kali ini sepertinya dia sangat serius, dia menanyakanku soal komunikasi ku dengan siswa lain dikelas, ia banyak menerima laporan kalau aku tidak berinteraksi dengan siswa dikelas dengan baik, bahkan banyak juga yang bilang kalau aku lebih menghindar dari mereka, saat itu aku hanya berdiam diri saja, aku hanya bilang "saya memang sulit berkenalan dengan orang pak. tapi saya akan berusaha agar saya bisa dekat dengan teman teman di kelas" sebenarnya aku sudah benar benar khawatir, karna aku sendiri telah mengetahui bahwa beberapa siswa disekolah ini berteman dengan orang orang yang berada di sekolah lama ku dan mereka membicarakan ku, aku takut apa yang aku lakukan selama satu semester ini sia sia. Tiba tiba pak Sentot mengingatkan ku sesuatu yaitu tentang lomba teater yang akan diadakan oleh sekolah yang di ikuti oleh tiap kelas, dan aku ditunjuk sebagai ketua teater, karna ia menilai aku pandai membuat cerita, dan untuk terakhir kalinya dia mengingatkan ku tentang komunikasiku kepada teman teman sekelasku. Sepertinya dia benar, kali ini aku benar benar membutuhkan itu, aku menjadi ketua teater untuk kelasku ditambah kelasku memiliki masalah yang serius dengan para guru guru di sekolah.
4 bulan kemudian...
14 hari lagi lomba teater dimulai, namun para siswa di kelasku masih saja malas malasan dengan teater ini, mereka bilang mereka ga sanggup dengan lomba ini, sebagian anak banyak yang ga niat atau ikut partisipasi dalam lomba ini sebagian lagi masih sibuk ngurusin nilai UTS yang belum selesai selesai katanya mereka di buat susah oleh guru mata pelajaran tertentu untuk mengerjakan remedialnya. kalau begini terus aku tidak sanggup lagi..
seminggu kemudian..
Hari ini aku berniat menemui pak Sentot, aku ingin berbicara soal lomba teater yang di ikuti oleh setiap kelas aku merasa sudah tidak bisa melakukan apapun lagi untuk kelas ini.
"Pada saat bapak menunjuk kamu sebagai ketua teater mengapa kamu dengan semangat menjawab "Iya" untuk melakukan itu"
"saya.. saya merasa bahwa saya telah mendapatkan kepercayaan penuh dari bapak agar saya bisa mengetuai lomba teater antar kelas ini pak, dan saya tidak ingin mengecewakan bapak, tapi sepertinya saya gagal"
"lomba tinggal 7 hari lagi, waktu ini masih cukup untuk kelas kita melakukan persiapan untuk lomba teater nanti, dan masih ada kesempatan untuk kamu untuk menyelesaikan ini, saya yakin Seno kamu bisa, karna saya tau, kamu adalah orang yang memiliki kemauan"

Ini cara terakhir aku harap aku bisa melakukan ini semua..
"Kalian sadar ga sih kalau kelas kita udah kaya gimana di depan guru guru?, kita sama sekali ga dapet dukungan dari siapapun kecuali wali kelas kita sendiri, semua orang yang berada di sekolah ini ngeremehin kelas kita, apa kalian terima? ditambah kita semua diancem ga akan naik kelas kalau kita gabisa tampil dalam acara lomba teater ini. please, gua cuman pengen kelas kita bisa kompak sama seperti kelas kelas lain, kalau kalian bisa kompak diluar sana dengan nongkrong, kenapa di sini engga? apa bedanya disini dan diluar?  gua berfikir, cuman ini cara kita supaya nilai nilai kita bisa di bantu, oke bukan berarti kita bisa naikin semua nilai mata pelajaran di raport dengan cara seperti ini, tetapi yang gua pengen, kita bikin semua guru dan siswa yang ngeliat kita tampil nanti bisa nginget apa yang kita persembahkan dari kelas ini, kita bikin mereka semua ga lupa sama kekompakan yang kita punya, karna gua yakin kompak kita bukan hanya dalam hal jelek yang seperti guru guru bilang, tapi kita juga bisa kompak menjadi yang lebih baik, sama seperti kelas lain"

well.. sedikit pidato yang aku ucapkan di depan kelas yang benar benar spontan ini tanpa sengaja membuat mereka semua berfikir, mungkin mereka semua mengerti dari semua yang aku katakan. dan kali ini teman teman kelasku melakukan hal yang terbaik demi kelasnya. 1 minggu full kita berlatih demi mempersiapkan penampilan kami.
"Sen, semuanya udah siap, lu yakin kita bisa lakuin ini?" ucap Maudi teman sekelasku yang sedang panik di belakang panggung. Sudah berulang kali dia mengecek peralatan yang akan di pakai untuk penampilan kami kali ini "iya, gua yakin kita bisa" sambil senyum aku meyakinkannya

Oke penampilan terakhir untuk acara teater tahun ini, 
ini saatnya...
mari kita sambut
kali ini aku dan teman sekelasku akan membuktikan kepada semuanya...
teater 11 IPS 3 yang berjudul
aku akan membuat mereka ingat hari ini...
BINTANG DIUJUNG PELANGI!!!!

hm.. haah.. penampilan kelasku lancar dan semua siswa di kelasku menunjukan yang terbaik demi penampilan mereka kali ini. Tapi aku masih belum bisa menebak kelas mana yang akan keluar sebagai juara, degub jantungku masih belum bisa berhenti malahan masih terus berdegup kencang karna sebentar lagi pengumuman juara lomba teater tahun ini akan segera diumumkan. Sial kelas kelas lain juga penampilannya juga tidak kalah bagusnya dari kelasku.Apa aku bisa memberi kebanggan untuk wali kelasku dan guru guru yang lain?

5...
oke kali ini saya akan mengumumkan pemenang lomba teater tahun ini
4..
ini merupakan hasil dari penilaian para juri
3...
dan.. 
2..
pemenang lomba teater antar kelas tahun ini adalah....
1...... tiiiiiinnnnngggg.... Maaf pak Sentot.. 
11 IPS 3!!!!! DAN untuk ide cerita teater terbaik dimenangkan oleh SENO!!!!

waaaaaaaa.......... seluruh teman teman sekelasku loncat kegirangan, begitupun aku.. aku akui untuk kali ini aku bisa tertawa dengan teman teman sekelasku dan merayakan kemenangan atas kelas kita, aku sangat senang kita semua bisa menjadi pemenang dalam lomba teater tahun ini.
"Makasih ya Sen, ternyata bener apa yang lu omongin, gua rasa kita ngebuat semua guru disini nginget apa yang bisa kita lakuin untuk kelas kita, dan kita bisa kompak seperti ini di kelas" ucap Maudi
ting... mem..membuat..mereka..ingat? Ya, aku rasa aku benar benar berhasil.
Jam sepulang sekolah setelah lomba teater..
"Sekali lagi selamat ya Sen. Kamu bisa meyakinkan teman teman sekelas kamu dan membuat mereka melakukan yang terbaik demi kelas mereka, ditambah kamu juga menjadi pemenang untuk ide cerita teater tahun ini"
"Terimakasih pak. padahal saya fikir kelas kita tidak akan menang, tapi saya berfikir setidaknya kita semua bisa ikut partisipasi dalam lomba ini"
"hahaha.. Hebat kamu, masih saja merendah soal ini, lagi pula bapak penasaran, apa yang kamu lakukan sampai mereka bisa seperti itu?"
"Bukan apa apa pak, lagi pula yang paling penting sekarang, mereka bisa berbuat yang terbaik untuk kelasnya"
"Iya kamu benar.. hey nak, mungkin sebaiknya kamu membuat buku novel, bapak suka melihat cerpen buatan kamu di mading, bapak rasa kamu bisa membuat sebuah buku yang bagus"
"Terimakasih pak atas saran bapak tetapi, sebenarnya, saya lebih menyukai tulisan saya dijadikan ide cerita film ketibang novel pak, karna sebagus bagusnya sebuah karya akan dinilai bagus karyanya ketika kita bisa mengemas karya itu dengan menarik"
kali ini senyum pak Sentot benar benar nyata, senyum kebanggan atas murid muridnya, kali ini aku dan teman teman sepertinya bisa membuat senyum di bibirnya, yang biasanya kami membuatnya marah karna ulah ulah kami, dan aku rasa aku cukup bisa membantu mereka untuk membaggakan kelas, karna aku harap setelah dari sini mereka bisa mengerti apa arti kata "never give up".


you could be the greatest
You can be the best
You can be the king kong banging on your chest
You can be a master
Don't wait for luck
Dedicate yourself and you can find yourself
Standing in the hall of fame
And the world's gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame
And the world's gonna know your name
And you'll be on the walls of the hall of fame

Rabu, 18 Juni 2014

Sepasang Bola Mata Untuk Keynaya

"Persahabatan bukan hanya sekedar kata, 
yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, 
tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, 
yang ditoreh diatas dua hati, 
ditulis dengan tinta kasih sayang, 
dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa"..

   “Key… sini deh cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. “Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sih?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu. 
     Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah. Duduk di bangku kelas XII di sebuah Sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna. 
     Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis. “Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tau bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan. “Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini gak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan. “Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya. Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda.

Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh, 
“aduuh, kepala ku” 
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya. 
“Oh, ngga aku gak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum. 
“Minum obat ya Nay, aku gak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir. “aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang. 


      Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya, “Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra. Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud. Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya.
“Gimana rasanya sayang? Masih gak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya. 
“ngga usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan. “ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya. 
“Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar. 
     
     Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya. Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor, “Ma, Nayra kemana?? Kok papa gak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami. “Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita. “Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. “entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi. 
   
    Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup. “Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan. “Baiklah dok, “ sambut pa Artawan. 

     Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara, “Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak bisa berbuat apa-apa. 
Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih. 
Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya, “Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan. “sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali. Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu. 
     
    “udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan. “mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi. Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya.
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih. 
“Gak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya. 
“Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata. 


    Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih. “Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan. “Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.    


     “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita


    “Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka. “Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri. Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat. 


     “Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian.  -Nayra Amrita" 


     Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.
    Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung, 
“kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia gak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya. “Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya. 
“Gak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama. 
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya. 
Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi. “Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan. 
“Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api. 
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. 
       “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati. 


     Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar. 
“Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat” 
“belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar. 
Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas, “Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.  


      Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra. 
“Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,” 
“Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!” 


     Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah. 
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah. 
Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya, “mana Nayranya tante?? Kok gak kelihatan ada di rumah?” 
“Nayranya… Nayra.. Nayra..” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab. 
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya. 
Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan. 
“ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya. 


      Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya. 
    Dear Keynaya “Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key. Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi. Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita. Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku. Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life. Dariku yang selalu menyayangimu
-Nayra Amrita 


    Air mata mengalir deras di pipi Keynaya, “ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan. Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah. Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya. 


        Nayra Amrita Artawan 
         Lahir 8 Januari 1994 
         Wafat 14 April 2011 



     Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya, “kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya, “Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti. “iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji gak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya

Kamis, 12 Juni 2014

Cinta Di Akhir Nada

Matahari mulai memanas dan keringat mengucur di dahiku. Masih empat lagu yang belum kubawakan , tapi ku tak sanggup lagi tuk berdiri. Akhirnya kupaksakan raga ini tuk menghibur ribuan orang. Dan akhirnya acara ini pun selesai sudah.

Sampai di rumah , aku langsung terkulai lemas menunggu saat ku menutup mata . Akhirnya ku tertidur . Kicauan burung membangunkanku di pagi itu . Kurasakan cacing perutku berdemo ingin di beri makanan . Lalu ku berjalan selangkah demi selangkah menuju meja makan . 

Betapa terkejutnya aku melihat meja makan yang penuh dengan makanan . “Siapa yang memasaknya ?” tanyaku dalam hati . Tiba-tiba muncul sosok wanita berrambut panjang berbaju putih muncul di balik pintu dapur . Dan ternyata adalah kekasihku . 

Dia adalah Angel , wanita yang sangat kucintai . Penyabar , jujur , perhatian dan setia adalah sifatnya . Banyak lagu yang kuciptakan karena terinspirasi darinya . Dari bidadari yang hinggap dihatiku dan menjelma sebagai kekasih dalam hidupku .


        “ Sejak kapan kau disini ? ”, tanyaku
        “ Sejak kau masih tidur . ”, jawabnya dengan senyuman manis
        “ Mengapa kau tak bangunkanku ? ”, tanyaku
        “ Kulihat kau begitu lelah dan menikmati tidurmu . ”, jawabnya

Karena cacing perutku meronta-ronta , ku lahap roti keju yang ada di hadapanku . Angel melirikku dengan senyuman .


        “Lapar ya ?”, tanya Angel dengan nada manja .
        “Ho’oh”, jawabku dengan menganggukkan kepala . 

Sesaat kemudian , aku mendapat telepon dari produser untuk menghadiri meeting dengannya . Padahal di hari itu juga aku berjanji pada Angel untuk menemaninya pergi ke rumah orang tuanya di Bogor . Akhirnya rencana itu pun pupus sudah dan Angel tidak jadi pergi ke Bogor karena aku harus meeting dan menggarap project dengan produser . Aku pun berjanji pada Angel bahwa bulan depan aku akan menemaninya ke Bogor . 

Setiap malam aku menciptakan lagu untuk mempersiapkan album baruku yang akan dirilis bulan depan . Sehingga waktu luangku habis hanya untuk membuat lagu dan waktu untuk Angel menjadi terbengkelai . Setiap kali Angel mengajakku bertemu  aku selalu mengelak dengan alasan pekerjaan . 

Tak terasa sudah tiga minggu aku tidak berjumpa dengan Angel . Rasa rindu tumbuh subur dihatiku . Tetapi saat aku bertemu dengan Angel , sifatnya sedikit agak berubah . Dia tampak pendiam dan lebih pasif . Tidak seperti biasanya yang periang dan murah senyum . Mungkin dia agak marah karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku . Hal itu tak kutanggapi dengan serius .    

Sehari sebelum launching album , produser mengadakan meeting dan diakhiri dengan check sound . Hari yang kutunggu akhirnya tiba . Aku berharap launching album ini berjalan seperti yang ku inginkan dan album yang ku garap meledak dipasaran .  

Di awal acara aku mendapat telepon dari Angel yang menagih janji untuk menemaninya pergi ke Bogor . Akhirnya kuputuskan agar Angel berangkat sendiri dan aku akan menyusulnya besok pagi . Tanpa jawaban , Angel langsung memutus telepon . Hal itu tak kutanggapi dengan serius . Dan acara ini pun berjalan sukses .

Tiba-tiba ada kabar yang menyebutkan bahwa Angel telah mengalami kecelakaan lalu lintas . Aku pun langsung bergegas menuju rumah sakit . Tetapi kedatanganku sudah terlambat . Angel terlebih dahulu pergi sebelum aku datang . 

Air mataku jatuh terurai saat ku melihat sosok yang kucinta telah terbujur kaku di hadapanku . Wajahnya seolah tersenyum menyambut kedatanganku . Menyambut kedatangan orang yang tak punya mata hati . 

Kulihat secarik kertas di samping tubuh Angel yang ternyata adalah pesan terakhirnya . Dalam pesan itu Angel menulis tiga kata yang membuatku sangat menyesal . “ Kutunggu Kau Disana “ itulah pesan yang ditulis Angel sebelum ia pergi ke Bogor . Ternyata dia sudah merasakan apa yang akan dia alami .

Mungkin , batu nisan pisahkan dunia kita , namun dirimu akan selalu ada di hidupku . Menemani dalam setiap detak jantung hingga merasuk dalam palung jiwa . Penyesalan yang selalu datang takkan membuatmu kembali . Namun kuyakin kau telah bahagia di singgasana surga . 

Maafkan aku Angel . 

Jumat, 06 Juni 2014

Kado Terindah

“loe gila ya Win? Gimana bisa loe nyomblangin gue sama mantan loe.” sergahku.
“Firan sendiri yang minta,  ya gue kabulin.” Jawab Windi.

Sahabatku satu itu memang gila. Setelah kemaren aku dibuat bingung oleh sesosok penelfon misterius, dan ternyata dia adalah mantan Windi yang ternyata aku kenal. Dan kagetnya, dia sengaja meminta nomor handphoneku pada Windi. Setelah mengungkapkan identitas sebenarnya, Firan malah lebih sering lagi menghubungiku.
“Key, kapan bisa jalan sama loe.”
“kapan-kapan deh.”jawabku

Sebenarnya aku merasa gak nyaman sama Windi, tapi perhatian Firan membuatku luluh. Hingga suatu saat.
“key, gue sayang sama loe. Loe mau jadi cewek gue?” ucapan Firan mengagetkanku.
“Firan..loe mantan sahabat gue, gue gak mungkin jadian sama mantan sahabat gue sendiri. Gue takut dia tersakiti.”
“udahlah Key, Windi gak papa kok. Dia ikhlasin gue, gue tuh cuma temenan aja sama dia sekarang.”

Tiba-tiba panggilan telepon pun tertahan,dan tiba-tiba ada suara Windi.
“udahlah Key,santai aja. Kita udah gak ada apa-apa,lagian gue gak mungkin ngabulin permintaan dia buat minta comblangin sama loe kalau gue masih sayang sama dia.” Ucap Windi.
“tapi  Win…”
“udah denger sendiri kan,,Windi aja gak pa-pa.” Firan memotong kalimatku dan Windi pun mematikan teleponnya.
“jadi gimana?” Tanya Firan lagi.
“sebenernya sih gue juga sayang sama loe…Cuma..”
“makasih ya Key,gue seneng banget. Jadi lo mau jadi pacar gue.” Lagi-lagi Firan memotong kalimatku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
“iya Fir..”jawabku kemudian.
***

Gak terasa udah seminggu aku jadian sama Firan. Memang indah,karena perhatian Firan mampu melunakkan hatiku. Namun lama kelamaan aku semakin merasa bersalah dengan Windi. Hingga suatu hari Firan terkejut dengan ucapanku.
“Fir..kayaknya hubungan kita udah gak bisa dilanjutin lagi deh. Aku terus merasa bersalah sama Windi,aku tahu perasaan dia gimana ngeliat kita jalan berdua. Walaupun dia gak bilang, tapi aku tahu Fir..” ucapku.
“Key,Windi gak kayak gitu. Dia ikut seneng kok ngeliat kita. Lagian gak ada apa-apa juga kan, gak ada yang berubah kan dari sikap Windi sejak kita jadian.” 
“iya Fir..tapi aku tahu perasaan dia sebenarnya. Lebih baik kita temenan aja dulu ya.” Aku tetap nekad pengen putus sama dia. Sesaat dia terdiam.
“hmm…ya udah deh kalau memang itu mau kamu. Tapi kita tetep temenan kan,gak pa-pa kan kalo aku tetep sayang sama kamu.” Ucap Firan kemudian.

Aku hanya mengangguk lalu pergi dari hadapan Firan.
Suatu hari Windi mendekatiku, ternyata dia heran melihat aku dan Firan sudah jarang kelihatan berdua.
“Key..mana Firan. Gue gak pernah lagi liat dia sama loe jalan.”
“mmm…gue udah gak sama Firan lagi Win. Gue gak enak sama loe,gimana perasaan loe liat kita jalan, loe kan mantannya dia.” Jawabku jujur.
“ya ampun Key…gak gitu juga kali. Gue nyantai aja,gue gak ada rasa apa-apa lagi sama dia. Ngapain sih loe mutusin dia,,gue ikut seneng liat dia sama loe jadian. Gue tahu loe baik buat dia.” Jelas Windi. Aku hanya bisa terdiam dan mengangkat bahu.
“ya gimana lagi,, udah putus juga,udah kejadian.”lanjutku kemudian.
“gue yakin bentar lagi dia bakal minta loe buat  balikan lagi sama dia. Gue tahu Firan gimana.”

Sepulang sekolah, tanpa ganti baju lagi aku langsung merebahkan diri di kasur empukku. Saat baru akan memejamkan mata, dering handphone mengejutkanku dan tertera nama Firan di sana.
“iya Fir..kenapa?”tanyaku
“kamu lagi ngapain Key? Udah makan belom? Aku ganggu gak?” Tanya Firan bertubi-tubi.
“gak lagi ngapa-ngapain. Gak kok gak ganggu.” Jawabku seadanya.
“gimana kabar kamu, baik-baik aja kan?” Tanya Firan lagi
“baik kok..kamu?”
“baik juga. Ya udah ya Key,baik-baik ya. Aku cuma pengen denger suara kamu aja kok.” Ucap Firan kemudian dan dia langsung mematikan telepon. Mendengar ucapan terakhirnya, aku terdiam.
***

Setelah hampir 1 bulan aku putus dengan Firan, muncul seorang yang ingin jadi pengganti Firan. Namun sama dengan Firan dulu, aku belum kenal lama dengan Gion. Tapi untuk sekedar melupakan Firan bolehlah pikirku. Akhirnya setelah aku pikir-pikir,aku juga menerima Gion. Gak kerasa hubunganku dengan Gion bertahan lama hingga hampir 6 bulan, namun semakin lama aku semakin merasakan bahwa sifat Gion mulai berubah. Dia emosian dan mulai posesif serta temperamental. Aku mulai mencoba untuk lepas dari dia, namun ancaman-ancamannya terus membuatku takut. Hingga hampir satu bulan aku bertahan dalam keadaan penuh tekanan, hingga akhirnya tiba-tiba sosok Firan datang lagi.
“hai Key, gimana kabar loe. Kok kelihatannya loe sakit yah? Pucat banget wajah loe” ujar Firan saat bertemu di sebuah kafe. Memang sejak bermasalah dengan gion, aku mulai berubah. Karena penuh tekanan, aku sering memikirkan masalah itu sehingga kesehatanku menurun. Aku hanya memendamnya sendiri karena aku takut menceritakannya kepada orangtuaku.
“hmm..gak pa-pa kok. Loe ngapain disini?” tanyaku mencoba menghindar dari pertanyaan Firan.
“gak usah bohong Key, gue tahu dari mata loe. Cerita sama gue, gue bakal bantu loe.” Ucap Firan terdengar khawatir.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh Firan, aku pun menceritakan semua yang aku alami dengan Gion hingga tanpa sadar aku meneteskan airmata di hadapan Firan.
“hmm..maaf ya Fir, gue jadi cengeng kayak gini.”
“udahlah Key, keluarin aja semua kekesalan loe. Gue akan dengerin loe kok, tenang aja yah. Gue pasti ada buat loe.” Firan merebahkan kepalaku di bahunya. Saat itulah aku merasa tenang dan damai ketika berada di samping Firan.
“Fir…maafin gue yah dulu gue mutusin loe tiba-tiba. Tanpa alasan yang jelas pula.” Aku tiba-tiba membahas masa-masa yang bagiku itu adalah hal bodoh yang telah kulakukan.
“ya udahlah Key,,udah terjadi juga. Sekarang juga kalo loe mau, gue pengen ngajak loe balikan lagi.” Ucap Firan yang serta merta mengagetkanku.
“Fir..loe serius. Loe kan tau gue masih sama Gion.”
“iya Key, gue tau. Tapi gue juga tau kalo hati loe tuh gak sama Gion. Kita bisa kok backstreet dari dia, gue bakal nyimpan rahasia ini Cuma untuk kita berdua.” Jawab Firan meyakinkanku.
“loe yakin Firan..gue belum bisa lepas dari dia. Loe yakin semuanya akan baik-baik aja?”
“gue yakin semuanya akan baik-baik aja. Gue akan tanggungjawab kalo ada apa-apa.”
“iya Fir…gue mau. Makasih ya Fir, loe janji akan nyimpan rahasia ini baik-baik. Gue juga akan usahain untuk secepatnya lepas dari Gion.” Yakinku.
“gue janji buat loe.” Ucap Firan sambil mencium keningku.
***

Udah 2 minggu aku backstreet sama Firan dari Gion. Aku kadang merasa bersalah sama Firan, gimana bisa aku mengiyakan permintaanya untuk jadi yang kedua. Sementara aku tahu, itu pasti akan menyakitkan. Suatu hari aku mendengar sebuah gosip tentang Firan.
“Key, mantan loe si Firan tuh kemaren jalan sama Mita. Mereka jadian yah? Bukannya Mita pacarnya Dio.” Tanya kak Vina, sepupuku.
“emangnya kenapa kak? Kamu  kenal sama Dio n Mita?” jawabku sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. Jelas saja, itu menyangkut Firan.
“kenal lah, Dio kan sepupunya Riko. Makanya kakak Tanya sama kamu.”

Aku  baru ingat kalau Riko, pacarnya kak Vina sepupuan sama Dio dan rumahnya pun deketan.
“oh iya kak. Trus kenapa kak? Kakak mau aku nanya sama Firan. Ih gak banget lah kak, nanti dia mikir aku pengen balikan sama dia, sibuk ngurusin dia.” Jawabku.
“iya ya. Ya udah deh,gak usah diurusin ,biar Dio tahu sendiri aja.” Jawab kak Vina kemudian.

Padahal  sebenarnya aku juga pasti akan bertanya sama Firan, secara Firan pacarku. Walaupun jadi yang kedua, tapi bagiku Firan tetep nomor satu. Dan mendengar dia jalan sama cewek lain, sontak aku merasa kaget.
“Fir,loe kemaren jalan sama siapa?” aku mencoba buat tidak langsung menayakan tentang Mita.
“aku kemaren gak jalan kok Key, aku dirumah aja.” Jawab Firan.
“beneran?”
“iya Key, beneran.” Yakin Firan.
“oh, kayaknya Firan mulai nyoba boong sama gue. Apa maksudnya? Apa dia udah bosen sama hubungan ini. Tapi kenapa harus dengan cara kayak gini? Kalo udah gak kuat, kenapa gak bilang aja? Lagian kemaren gue juga gak minta, kan dia sendiri yang minta dijadiin yang kedua, lagian walaupun yang kedua, dia gak harus bebas jalan sama cewek lain juga dong.”  Batinku yang merasa kesal telah dibohongi Firan.
“Key..kenapa diem?” Tanya Firan.
“oh nggak, cuma pengen tahu aja. Oh iya Fir, gue cuma mau bilang. Kalo loe udah gak tahan dengan hubungan kita ini, kita cukup disini aja. Gue juga gak mau loe terus-terusan berada di posisi kayak gini. Loe bisa bebas juga kan mau jalan sama cewek lain, mau nyari cewek lain tanpa ada yang ngalangin.” Ucapku seketika.
“loh kok? Gue seneng kok di posisi kayak gini, gue nikmatin.”
“udahlah Fir, jangan boong. Kemaren loe jalan sama Mita kan. Kalo loe udah jenuh sama hubungan ini, loe bisa bilang sama gue, bukan dengan cara kayak gini. Gue tahu loe yang kedua buat gue, tapi bukan berarti loe bisa bebas jalan sama cewek lain.” Sergahku.
“oh..jadi karena itu loe marah sama gue? Iya gue akuin kemaren gue jalan sama Mita, tapi…”
“udahlah gak ada tapi-tapian. Sekarang gue bebasin loe buat jalan sama cewek lain. Udah cukup loe jadi yang kedua buat gue. Selamat bersenang-senang ya. Maafin gue udah jahat sama loe.” Aku memotong kalimat Firan dan langsung mematikan panggilan. Beberapa kali Firan mencoba menelpon balik, tapi tidak kuhiraukan.
***

2 hari lagi ultahku yang ke-17 dan aku berniat untuk merayakannya. Namun hingga ultahku kali ini, sudah sekitar 1 bulan masalahku dengan Gion tak kunjung usai. Firan yang selalu membuatku tenang, juga telah hilang.

Saat  malam pesta ultahku, yang datang pertama kali adalah Gion dan dia langsung terus berada di sampingku dan ikut menyalami teman-temanku yang datang.
“ih..ngapain sih nih Gion disini terus.Ya Allah..aku mohon jauhkanlah Gion dari kehidupanku untuk selama-lamanya.  Gue gak mau kenal dia lagi.” Gumamku dalam hati.
“kak, risih nih sama Gion. Maunya sampingku melulu.oh iya, kak Riko mana?” Aku curhat sama kak Vina,satu-satunya orang yang tahu masalahku dengan Gion.
“kamu pindah aja, jangan ditanggepin,anggap aja dia gak ada kalau dia terus deketin kamu. Kak Riko bentar lagi dateng kok, dia lagi nunggu mobilnya yang dipake Dio buat jalansama Mita.”
“loh masih sama Mita? Kan kemaren kakak bilang Mita jalan sama Firan.”
“iya sih, ternyata Firan sama Mita itu cuma temen deket. Mereka udah lama temenan dan memang sering jalan berdua,kemaren juga Mita minta Firan buat nemenin dia ke took buku soalnya Dio lagi ada kegiatan. Dio juga kenal kok sama Firan.” Jelas kak Vina. Aku kaget dan terdiam mendengarnya, kemaren aku udah curiga sama Firan bahkan langsung mutusin dia. Dia gak sempat ngejelasin soalnya aku udah motong kalimatnya duluan. Aku pun merasa menyesal karena selama ini Firanlah yang selalu nenangin aku.

Satu persatu teman-temanku datang, dan pada saat acara tiup lilin akan dmulai. Teman-temanku yang berada di depan terdengar riuh, sempat terdengar teman perempuanku menjerit. Kamipun mencoba melihat apa yang terjadi. Hampir semua teman-temanku ikut berlarian ke depan rumahku. Saat aku berlari, aku melihat sebuah kendaraan terbaring di depan pagar rumahku dan aku tercengang melihatnya. Itu adalah motor Firan.
“Firan..itu motor Firan. Aku yakin itu. Tapi kenapa Firan disini? Dari tadi aku juga gak ngeliat Firan, dan aku juga gak pernah ngasih tahu dia kalo aku ngerayain pesta.” Au mencoba menerka-nerka.
“Key..Firan.” kak Vina langsung menghampiriku dan menarik tanganku kearah temen-temenku yang sedang mengerumuni sesuatu. Saat melihat apa yang ada di tengah-tengah mereka, seseorang yang terbujur kaku dengan kepala bersimbah darah. Aku terduduk di hadapannya dan sontak aku menjerit sambil meneteskan airmata.
“Firan………bangun Firan. Kenapa bisa kayak gini. Bangun Firan..” aku menjerit memanggil nama Firan. Namun Firan tetap terbaring lemah, beberapa detik kemudian mata Firan perlahan terbuka, dia tersenyum dan dengan bersusah payah dia mencoba meraih pipiku. Aku meraih tangannya dan melekatkannya ke pipiku. Setelah itu dia kembali memejamkan mata dan perlahan tangannya terlepas dari genggamanku.
“Firan……………..”aku menangis dan langsung memeluk firan. Tak kuhiraukan gaun pestaku telah dipenuhi oleh darah. Gion mendekatiku dan menarikku. Tak kuhiraukan panggilannya, aku malah menepis tangannya dari pundakku. Kemudian kak Vina mendekatiku.
“Key, tadi kakak nemuin ini di dekat tubuh Firan.” Kak Vina memberikan sebuah kotak mungil yang lucu.
“dengan meneteskan airmata, perlahan aku membuka kado tersebut. Isinya adalah sebuah kalung bertuliskan my angel dan sebuah kartu kecil.” Aku membaca tulisan di kartu tersebut.
“Keyla my angel,happy birthday ya. walaupun kisah kita begitu singkat,tapi semuanya begitu indah. Makasih ya udah jadi my angel. Aku akan selalu sayang kamu.”

Setelah membaca tulisan itu, aku kembali menangis histeris memanggil nama Firan. Ternyata Firan ingin memberikan kado untukku. Aku menyesal karena beberapa hari yang lalu, aku marah-marah sama Firan dan bahkan sampai mutusin dia karena kecurigaanku yang ternyata salah. Ternyata Firan masih ingat dengan ultahku, dan dia memberikan sesuatu untukku, namun sekarang penyesalanku terlambat. Firan telah pergi dan aku hanya bisa mengungkapkan penyesalan itu pada pusaranya nanti. Tak lama ambulan datang membawa jasad Firan. Gion pun kembali mendekatiku dan mencoba menenangkanku.
“udahlah Key, Firan udah gak ada, gak usah ditangisin.” Ucap Gion.
“diem kamu. Ini semua gara-gara kamu. Aku tuh gak pernah ngarepin kamu ada di pestaku malem ini, udah cukup kamu bikin hidupku tersiksa, penuh tekanan. Bukan hanya sakit hati, tapi sakit jiwa raga. Kamu tuh manusia gak punya hati, aku nyesel kenal sama kamu. Pergi kamu dari hidup aku, sebelum aku berbuat nekad. Silahkan kamu bertobat sebelum kamu nyusul Firan dan kamu bakal tersiksa lebih dari rasa sakit aku yang udah kamu bikin tersiksa. Gue benci loe, jangan pernah anggap gue ada. Gue gak pernah dan gak akan pernah mau lagi denger nama loe dan liat wajah loe dhadapan gue.” Aku memaki-maki Gion di hadapan teman-temanku. Malam itu semua kekesalan yang ku pendam selama ini seketika ku keluarkan.
“Keyla…” Gion mencoba memegang tanganku dan aku langsung menepisnya.
“pergi…..gue gak butuh loe. Loe cuma bikin hidup gue hancur.” Aku menunduk, enggan menatap wajah Gion.  Gion terdiam di hadapanku.
“gue bilang pergi, jangan harepin gue lagi buat kenal sama orang gk punya hati kayak loe. Dosa terbesar gue kenal sama loe. Loe tau itu?” makiku sambil terus menunduk. Aku pergi meninggalkan Gion dan teman-temanku. Gion kembali menarik tanganku.
“jangan coba sentuh gue.” Aku menepis tangan Gion dan berlalu pergi tanpa menghiraukan tatapan heran teman-temanku yang penuh tanda tanya karena makian-makian yang kulontarkan tadi. Aku menarik tangan kak Vina dan memintanya untuk membawaku ke rumah sakit dimana Firan dibawa. Dari kejauhan tak lama kulihat Gion juga berlalu pergi.
“Firan…maafin gue. Maafin sikap gue ke loe, gue udah berpikiran buruk sama loe. Gue nyesel sempet marah-marah sama loe dan bahkan mutusin loe. Disaat gue ingin memperbaikinya, loe udah pergi Fir. Walaupun loe pernah jadi yang kedua buat gue, tapi bagi gue loe tetep yang pertama dan terbaik untuk gue. Gue akan selalu jadi angel buat loe Fir. Semoga loe tenang yah disana, do ague akan selalu ada buat loe.  Simpan cinta gue di tidur panjang loe ya. I love you.” Bisikku kemudian di telinga Firan saat aku telah berada di hadapan jasad Firan. Dihari ultahku ini, Firan memang telah pergi. Namun cintanya akan selalu hidup dihati aku, dan kado itu…adalah kado terakhir dan terindah dari Firan.
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About