RSS
Facebook
Twitter

Selasa, 24 Juni 2014

Namaku Seno

Setelah libur panjang yang lama berlalu akhirnya semua ini berakhir juga. sekarang saatnya,  yang berlalu biarlah berlalu, sekarang saatnya bagiku untuk memulai hidup baru. "Nak, jam berapa kamu mau berangkat sekolah?, ini hari pertama kamu, jangan sampai kamu mengacaukannya" panggilan ibuku sudah terdengar berkali kali dari depan kamar, aku sendiri masih berada di depan cermin..
"Jangan sampai terikat dengan siapapun, jangan sampai terlalu mencari perhatian, anggap saja disana cuman ada lo! hanya elo! lo berangkat sekolah tepat waktu, dan pulang tepat waktu, that's it!! ga ada waktu untuk dekat sama orang lain, lo sekolah dan lulus dari sana, dan berjanji ga akan pernah balik ke tempat itu lagi, dan benar benar ninggalin semua hal yang ada disana"
oke, aku siap.. kali ini aku tidak boleh mengacaukan apapun, aku hanya siswa biasa. 
Namaku Seno..
lumayan jauh untuk sampai ke sekolah baruku tetapi aku masih bisa datang tepat waktu, kebetulan ini hari jumat, jadi tidak ada upacara untuk penyambutan siswa baru disekolah, kita semua langsung dikumpulkan di aula sekolah untuk mendengarkan pembagian kelas.
20 menit kemudian... semua nama telah disebutkan, dan aku menjadi bagian di kelas 11 IPS 3 tanpa basa basi aku langsung menuju kelas dimana aku belajar selama 1 tahun ini, tanpa melihat lihat aku langsung memilih tempat dimana aku duduk, biasanya siswa lain mencari teman untuk duduk sebangku dengannya.
Aku tidak butuh itu.. Aku duduk di posisi paling belakang dan paling kanan di kelas, bagiku hanya buang buang waktu untuk memilih tempat duduk di kelas, aku langsung menaruh tas ku disana dan pergi ke depan kelas.
Hari pertamaku sama seperti siswa baru lainnya. Tidak ada teman untuk berbicara, yang kulakukan hanya melihat lapangan basket sekolah dari lantai 2 yang kebetulan tidak jauh dari kelasku. 30 menit hanya itu yang aku lakukan sampai seorang guru datang dan masuk ke kelasku, beberapa siswa di kelas memperhatikanku, ya wajar saja mungkin mereka baru melihatku berada disekolah ini, dan aku mengacuhkannya..
tidak ada yang spesial selama pelajaran, guru itu hanya memperkenalkan dirinya di depan kelas. Namanya Ibu Yeni, dia mengajar bahasa Indonesia. hanya saja sambutan anak anak di kelas ini kurang ramah padanya, padahal guru ini baik kalau dilihat dari perilaku dan tutur katanya. Aku rasa aku berada di kelas dengan anak anak yang penuh dengan kenakalan..
Bell istirahatpun berbunyi, aku bekeliling sekolah ini sendirian, ya anggap saja untuk mengenal tempat yang akan aku singgahi untuk 2 tahun kedepan, saat sedang berjalan aku melihat papan mading yang kosong, Aneh, ko mading di biarkan kosong seperti ini?
"Sedang berjalan jalan Seno? masih belum dapat teman disini ya?" suara orang ini membuat aku terkejut, tiba tiba dia datang dan langsung menyebut namaku. Namanya Pak Sentot, kebetulan dia adalah wali kelas ku "Kebetulan bapak mendengar dari salah satu guru bahwa ada siswa yang baru pindah ke sekolah ini yang menjadi wali murid bapak?" 
"oh iya pak, kebetulan saya pindahan dari cibinong" 
"oke, bisa kita mengobrol sebentar?, itupun kalau kamu mau?" 
"boleh pak, mari"
"hm, madingnya kosong ya?, kamu suka baca mading?"
"em, ga terlalu ko pak, biasanya kalau liat mading cuman iseng aja, paling ya liat artikel atau cerpen"
"kamu suka baca cerpen?, hm ga heran anak kaya kamu suka ngeliat mading ya?"
"ya kalau lagi nganggur biasanya ada aja sih pak cerita cerita yang bisa saya bikinin cerpen, tapi ga gerlalu sering hehe"
"mungkin kapan kapan kamu bisa menempel cerpen kamu disini, ya supaya mading ini tidak terlihat kosong kosong sekali"
"iya pak, Insaallah kalau ada waktu saya bakal nempelin cerpen saya disini"
pembicaraan singkat tadi membuktikan satu hal. Mungkin pak Sentot merupakan orang yang sangat perhatian, yang aku lihat sepertinya dia sangat memperhatikan setiap murid muridnya.
Satu semester telah aku lalui disekolah ini, keadaanku masih sama saja ketika aku menjadi siswa baru disini, tidak ada teman yang bisa diajak bicara, sekalinya ada pembicaraan itu hanya pembicaraan seputar sekolah, yang seperti kalian tau. Tugas, remedial ulangan, ulangan harian, dan pembicaraan seputar pelajaran yang menjadi soal ulangan di semester satu, setidaknya dengan sifatku yang seperti ini, siswa siswa yang lain tidak perlu mengenaliku secara dekat, aku hanya ingin cepat cepat lulus dari sekolah ini.
Suatu hari, pak Sentot memangilku dan kali ini sepertinya dia sangat serius, dia menanyakanku soal komunikasi ku dengan siswa lain dikelas, ia banyak menerima laporan kalau aku tidak berinteraksi dengan siswa dikelas dengan baik, bahkan banyak juga yang bilang kalau aku lebih menghindar dari mereka, saat itu aku hanya berdiam diri saja, aku hanya bilang "saya memang sulit berkenalan dengan orang pak. tapi saya akan berusaha agar saya bisa dekat dengan teman teman di kelas" sebenarnya aku sudah benar benar khawatir, karna aku sendiri telah mengetahui bahwa beberapa siswa disekolah ini berteman dengan orang orang yang berada di sekolah lama ku dan mereka membicarakan ku, aku takut apa yang aku lakukan selama satu semester ini sia sia. Tiba tiba pak Sentot mengingatkan ku sesuatu yaitu tentang lomba teater yang akan diadakan oleh sekolah yang di ikuti oleh tiap kelas, dan aku ditunjuk sebagai ketua teater, karna ia menilai aku pandai membuat cerita, dan untuk terakhir kalinya dia mengingatkan ku tentang komunikasiku kepada teman teman sekelasku. Sepertinya dia benar, kali ini aku benar benar membutuhkan itu, aku menjadi ketua teater untuk kelasku ditambah kelasku memiliki masalah yang serius dengan para guru guru di sekolah.
4 bulan kemudian...
14 hari lagi lomba teater dimulai, namun para siswa di kelasku masih saja malas malasan dengan teater ini, mereka bilang mereka ga sanggup dengan lomba ini, sebagian anak banyak yang ga niat atau ikut partisipasi dalam lomba ini sebagian lagi masih sibuk ngurusin nilai UTS yang belum selesai selesai katanya mereka di buat susah oleh guru mata pelajaran tertentu untuk mengerjakan remedialnya. kalau begini terus aku tidak sanggup lagi..
seminggu kemudian..
Hari ini aku berniat menemui pak Sentot, aku ingin berbicara soal lomba teater yang di ikuti oleh setiap kelas aku merasa sudah tidak bisa melakukan apapun lagi untuk kelas ini.
"Pada saat bapak menunjuk kamu sebagai ketua teater mengapa kamu dengan semangat menjawab "Iya" untuk melakukan itu"
"saya.. saya merasa bahwa saya telah mendapatkan kepercayaan penuh dari bapak agar saya bisa mengetuai lomba teater antar kelas ini pak, dan saya tidak ingin mengecewakan bapak, tapi sepertinya saya gagal"
"lomba tinggal 7 hari lagi, waktu ini masih cukup untuk kelas kita melakukan persiapan untuk lomba teater nanti, dan masih ada kesempatan untuk kamu untuk menyelesaikan ini, saya yakin Seno kamu bisa, karna saya tau, kamu adalah orang yang memiliki kemauan"

Ini cara terakhir aku harap aku bisa melakukan ini semua..
"Kalian sadar ga sih kalau kelas kita udah kaya gimana di depan guru guru?, kita sama sekali ga dapet dukungan dari siapapun kecuali wali kelas kita sendiri, semua orang yang berada di sekolah ini ngeremehin kelas kita, apa kalian terima? ditambah kita semua diancem ga akan naik kelas kalau kita gabisa tampil dalam acara lomba teater ini. please, gua cuman pengen kelas kita bisa kompak sama seperti kelas kelas lain, kalau kalian bisa kompak diluar sana dengan nongkrong, kenapa di sini engga? apa bedanya disini dan diluar?  gua berfikir, cuman ini cara kita supaya nilai nilai kita bisa di bantu, oke bukan berarti kita bisa naikin semua nilai mata pelajaran di raport dengan cara seperti ini, tetapi yang gua pengen, kita bikin semua guru dan siswa yang ngeliat kita tampil nanti bisa nginget apa yang kita persembahkan dari kelas ini, kita bikin mereka semua ga lupa sama kekompakan yang kita punya, karna gua yakin kompak kita bukan hanya dalam hal jelek yang seperti guru guru bilang, tapi kita juga bisa kompak menjadi yang lebih baik, sama seperti kelas lain"

well.. sedikit pidato yang aku ucapkan di depan kelas yang benar benar spontan ini tanpa sengaja membuat mereka semua berfikir, mungkin mereka semua mengerti dari semua yang aku katakan. dan kali ini teman teman kelasku melakukan hal yang terbaik demi kelasnya. 1 minggu full kita berlatih demi mempersiapkan penampilan kami.
"Sen, semuanya udah siap, lu yakin kita bisa lakuin ini?" ucap Maudi teman sekelasku yang sedang panik di belakang panggung. Sudah berulang kali dia mengecek peralatan yang akan di pakai untuk penampilan kami kali ini "iya, gua yakin kita bisa" sambil senyum aku meyakinkannya

Oke penampilan terakhir untuk acara teater tahun ini, 
ini saatnya...
mari kita sambut
kali ini aku dan teman sekelasku akan membuktikan kepada semuanya...
teater 11 IPS 3 yang berjudul
aku akan membuat mereka ingat hari ini...
BINTANG DIUJUNG PELANGI!!!!

hm.. haah.. penampilan kelasku lancar dan semua siswa di kelasku menunjukan yang terbaik demi penampilan mereka kali ini. Tapi aku masih belum bisa menebak kelas mana yang akan keluar sebagai juara, degub jantungku masih belum bisa berhenti malahan masih terus berdegup kencang karna sebentar lagi pengumuman juara lomba teater tahun ini akan segera diumumkan. Sial kelas kelas lain juga penampilannya juga tidak kalah bagusnya dari kelasku.Apa aku bisa memberi kebanggan untuk wali kelasku dan guru guru yang lain?

5...
oke kali ini saya akan mengumumkan pemenang lomba teater tahun ini
4..
ini merupakan hasil dari penilaian para juri
3...
dan.. 
2..
pemenang lomba teater antar kelas tahun ini adalah....
1...... tiiiiiinnnnngggg.... Maaf pak Sentot.. 
11 IPS 3!!!!! DAN untuk ide cerita teater terbaik dimenangkan oleh SENO!!!!

waaaaaaaa.......... seluruh teman teman sekelasku loncat kegirangan, begitupun aku.. aku akui untuk kali ini aku bisa tertawa dengan teman teman sekelasku dan merayakan kemenangan atas kelas kita, aku sangat senang kita semua bisa menjadi pemenang dalam lomba teater tahun ini.
"Makasih ya Sen, ternyata bener apa yang lu omongin, gua rasa kita ngebuat semua guru disini nginget apa yang bisa kita lakuin untuk kelas kita, dan kita bisa kompak seperti ini di kelas" ucap Maudi
ting... mem..membuat..mereka..ingat? Ya, aku rasa aku benar benar berhasil.
Jam sepulang sekolah setelah lomba teater..
"Sekali lagi selamat ya Sen. Kamu bisa meyakinkan teman teman sekelas kamu dan membuat mereka melakukan yang terbaik demi kelas mereka, ditambah kamu juga menjadi pemenang untuk ide cerita teater tahun ini"
"Terimakasih pak. padahal saya fikir kelas kita tidak akan menang, tapi saya berfikir setidaknya kita semua bisa ikut partisipasi dalam lomba ini"
"hahaha.. Hebat kamu, masih saja merendah soal ini, lagi pula bapak penasaran, apa yang kamu lakukan sampai mereka bisa seperti itu?"
"Bukan apa apa pak, lagi pula yang paling penting sekarang, mereka bisa berbuat yang terbaik untuk kelasnya"
"Iya kamu benar.. hey nak, mungkin sebaiknya kamu membuat buku novel, bapak suka melihat cerpen buatan kamu di mading, bapak rasa kamu bisa membuat sebuah buku yang bagus"
"Terimakasih pak atas saran bapak tetapi, sebenarnya, saya lebih menyukai tulisan saya dijadikan ide cerita film ketibang novel pak, karna sebagus bagusnya sebuah karya akan dinilai bagus karyanya ketika kita bisa mengemas karya itu dengan menarik"
kali ini senyum pak Sentot benar benar nyata, senyum kebanggan atas murid muridnya, kali ini aku dan teman teman sepertinya bisa membuat senyum di bibirnya, yang biasanya kami membuatnya marah karna ulah ulah kami, dan aku rasa aku cukup bisa membantu mereka untuk membaggakan kelas, karna aku harap setelah dari sini mereka bisa mengerti apa arti kata "never give up".


you could be the greatest
You can be the best
You can be the king kong banging on your chest
You can be a master
Don't wait for luck
Dedicate yourself and you can find yourself
Standing in the hall of fame
And the world's gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame
And the world's gonna know your name
And you'll be on the walls of the hall of fame

0 komentar:

Posting Komentar

  • Blogger news

  • Blogroll

  • About