RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 06 Juni 2014

Until The End Of Time

Di suatu tempat terdapat sepasang suami istri dan mereka mereka melahirkan seorang anak, namanya Jillian hidup mereka sangatlah sederhana sang ayah hanyalah pekerja tambang yang gajinya hanya cukup untuk makan sehari hari namun Jillian sangat menikmati kehidupannya. Suatu hari Jillian melihat sekelompok anak anak mengenakan seragam rapih sedang menuju ke sekolah awalnya pemandangan itu terlihat biasa saja olehnya namun semakin lama Jillian berfikir untuk bersekolah tiba tiba sang ibu, Rose menghampirinya lalu Jillian bertanya kepada sang ibu “Ibu apakah aku bisa bersekolah?” Rose tersentuh mendengar pertanyaan itu namun ia bingung apa yang harus ia jawab agar tidak menyakiti perasaan Jillian dan sang ibu hanya bisa terdiam. Sambil memeluk Jillian Rose perlahan menjelaskan kepada Jillian mengapa ia tidak bisa seperti anak anak yang sedang dilihatnya namun Jillian sadar tanpa sang ibu menjelaskanpun ia sudah mengeri betul dengan kondisi keluarga mereka saat ini dan ia percaya bahwa akan ada kebahagiaan yang akan mereka dapatkan nanti.
            Tiba tiba seseorang memanggil nama Rose dari dalam rumah, itu adalah Suaminya sekaligus ayah dari Jillian dengan cepat Rose menghampiri sang suami. Dengan perasaan marah sang suami mempermasalahkan tidak ada makanan untuk sarapannya hari ini, Rose menjelaskan dengan perlahan bahwa ia tidak memiliki uang untuk membeli bahan makanan untuk sarapannya namun sang suami tidak menerima alasannya karna sangat kesal ia memukul Rose dengan sangat kencang hingga membuat rose tersungkur di lantai. Mendengar suara gaduh di dalam rumah Jillian dengan cepat berlari menuju rumah dan ia melihat Ibunya sudah tersungkur di lantai sambil menangis ia menghampiri sang ibu dan membentak sang ayah atas perlakuannya makin kesal melihat mereka berdua sang ayah menarik sambut Jillian dan membawanya ke halaman belakang lalu memukuli Jillian. Tak tega melihat Jillian Rose mengambil sebalok kayu dan memukul sang suami dengan sangat kencang tepat dikepalanya dan melanjutkannya dengan terus memukuli sang suami hingga mati.
            Entah apa yang difikirkan oleh Rose hingga ia melakukan hal yang diluar dari kesadarannya sambil menangis Jillian hanya bisa diam sambil melihat sang Ibu. Rose menghampiri Jillian sambil memeluknya “ibu aku takut” ucap Jillian sambil menangis “tenang sayang Ibu ada di sini” jawab Rose sambil menenangkan Jillian. Rose berfikir keras akan dikemanakan mayat suaminya dan ia berfikir untuk menguburkannya di dekat halaman rumah hingga malam tiba Jillian masih sangat trauma dengan kejadian tadi siang namun sang ibu terus meyakinkan Jillian. Beberapa hari kemudian polisi datang kerumah mereka pada saat itu Jillian dan Rose sedang makan malam, mereka terkejut akan kedatangan polisi kerumahnya namun Rose telah membuat rencana untuk melindungi Jillian ia memerintahkan Jillian untuk bersembunyi di loteng rumah sampai keadaan seperti semula Jillian hanya bisa berdiam diri di loteng menunggu sang Ibu namun sang Ibu tak pernah kembali itu semua karna Rose telah dibawa oleh para polisi itu dan seminggu kemudian Rose telah ditetapkan sebagai pelaku dalam kasus pembunuhan suaminya.
            Malam itu Jillian masih belum sadar bahwa sang ibu telah dipenjara karna kasus pembunuhan ayahnya, yang ia tau hanyalah Ibunya pergi meninggalkannya lalu ia memutuskan untuk pergi menjalani hidup tanpa sang ibu. 5 tahun kemudian Rose telah menyelesaikan hukumannya dia di bebaskan dari penjara, ia memutuskan untuk kembali kerumahnya bertemu dengan Jillian namun sesampainya dirumah, tidak ada seorangpun disana rumah itu sudah sangat lama ditinggalkan, terlihat dari debu yang tebal di dinding. Rose tidak mengetahui dimana Jillian sekarang namun ia percaya ia masih hidup dan Rose mengambil keputusan untuk mencarinya.
            Berhari hari mencari sang anak Rose masih belum menemukan apapun karna kelelahan Rose memutuskan untuk beristirahat sejenak dalam pencariannya dan membeli segelas air, di pinggir jalan ia melihat sosok seorang anak pengamen jalanan yang ia sangat kenali dan ternyata itu adalah Jillian. Rose langsung memeluk Jillian sangat erat sambil meneteskan air mata ia mengatakan pada sang anak bahwa ia sangat merindukannya namun pada saat kerinduan mereka sedang terlampiaskan tiba tiba beberapa orang pria berbadan besar menghampiri mereka dengan muka marah mereka meminta Jillian untuk melanjutkan pekerjaannya karna tak terima dengan perlakuan preman tersebut Rose melawan mereka namun itu semua hanya membuatnya di hajar oleh preman preman itu Jillian menahan para preman itu untuk memukuli sang ibu dan mulai melanjutkan pekerjaannya, Rose memikirkan rencana untuk mengambil kembali anaknya dari para orang orang itu dan ia memutuskan menunggu hingga Jillian selesai bekerja dan mengikutinya ke tempat dimana ia di tempatkan oleh orang orang itu.
            Sesampainya di tempat dimana Jillian tinggal Rose memulai rencananya, ia menyelinap kedalam tempat sang anak tinggal dan menemuinya Jillian sangat terkejut melihat sang ibu ia tak menyangka ibunya dapat menemuinya di tempat ini, dengan cepat Rose mencari jalan keluar yang aman untuk mereka tanpa diketahui oleh para preman itu namun pada saat mereka sedang mencari jalan untuk keluar salah satu preman itu melihat mereka dengan cepat Rose dan Jillian berlari menuju jalan keluar yang di ikuti oleh preman preman itu karna kelelahan mereka ditangkap oleh para preman itu dan Rose dipukul hingga pingsan. Rose terbangun dipagi hari dengan badan yang terikat melihat ke kiri dan kanan mencari sang anak namun ia tak berada disana tiba tiba salah satu preman mendatanginya sambil mengajukan pertanyaan ia memukuli Rose namun ia hanya berdiam diri malahan ia menanyakan balik dimana Jillian dengan cepat Rose mengambil tindakan untuk melepaskan dirinya.
            Rose berhasil melakukannya dan dengan cepat ia berlari keluar dari ruangan itu dan mengunci preman itu di dalam dan melanjutkan mencari sang anak. Langkahnya terhenti di depan suatu ruangan, didalamnya terdengar suara memanggil namanya, dengan cepat Rose memasuki ruangan itu dan melihat Jillian yang terbujur kaku di lantai terlihat banyak sekali luka disekujur tubuhnya sambil mengendongnya Rose membawa Jillian pergi dari tempat mengerikan itu lalu mencari tempat untuk bernanung. Disaat Rose sedang mengobati anaknya tiba tiba seseorang menghampirinya ternyata itu adalah Natalia teman Rose semasa dipenjara tidak berfikir panjang Natalia mengajak Rose untuk pergi bersamanya menuju rumahnya karna melihat Jillian yang sangat membutuhkan pertolongan secepatnya Rose memenuhi ajakan temannya itu disuatu malam Rose berbicara dengan Natalia dari apa yang dibicarakan mereka Rose belajar sesuatu bahwa Natalia telah berubah dan ia benar benar telah memulai kehidupan barunya.
            Tiba tiba ia memberikan Rose sebuah alamat rumah dan memintanya untuk bekerja dengannya Rose sangat berterima kasih dengan pemberian Natalia dan besoknya Rose pergi menuju rumah yang telah diberikan oleh Natalia dan sementara itu Natalia menemani Jillian untuk mendaftarkannya ke sebuah sekolah. Rose sangat mensyukuri hal yang telah di dapatkannya ia merasa bahwa hari ini adalah hari ia akan membuka lembaran baru bersama sang anak dengan bahagia. 2 bulan kemudian suatu musibah kembali datang menghampiri mereka disuatu malam Rose dan Jillian baru menyelesaikan makan malamnya lalu tiba tiba Jillian terjatuh pingsan tanpa berfikir panjang Rose langsung membawa Jillian kerumah sakit dengan penuh kekhawatiran Jillian menunggu kabar dari dokter yang memeriksanya tidak lama kemudian sang dokter keluar dan menjelaskan kepada Rose tentang keadaan Jillian “anak ibu positif terkena penyakit kanker hati dan sepertinya kemungkinan untuk hidup sekitar 20%, satu satunya cara hanyalah ada yang bersedia untuk mendonorkan hati untuk anaknya”.
            Rose berfikir keras apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan anaknya ia mencoba mencari pinjaman kemana mana untuk memebeli hati untuk sang anak namun hal itu sia sia. Natalia menyarankan Rose untuk mendonorkan hatinya namun resikonya Rose harus kehilangan nyawanya sejenak ia berfikir dengan perkataan Jillian “ibu terimakasih telah melindungiku dari hal hal yang membuatku takut namun aku memita satu hal kepadamu, jangan pernah engkau mengorbankan nyawamu hanya untuk melindungiku karna ketika engkau mati saat itu aku tidak tau apakah aku bisa hidup tanpamu” Rose hanya bisa menangis  sambil memikirkan hal itu fikirannya terasa sudah buntu. Berhari hari ia berfikir apa yang harus ia fikirkan untuk menyelamatkan sang anak, karna tidak ada jalan lain akhirnya ia mengambil keputusan untuk mendonorkan hatinya kepada sang anak namun 2 jam sebelum operasi pendonoran hati Jillian menghembuskan nafas terakhirnya.
            Rose sangat terpukul melihat anaknya telah tiada disaat Jillian sedang sangat membutuhkannya, ia hanya bisa menangis sambil memanggil nama sang anak. Tidak mau menunggu lama Rose memutuskan untuk segera memakamkan Jillian di pemakaman tiba tiba hujan turun sekaligus mengiringi kesedihan Rose “tidak ku sangka bahkan langit pun menangis merasakan pedihnya harus melihat anak sendiri sedang dimakamkan” ucap Natalia. Rose menceritakan masalalunya bersama Jillian yang penuh dengan penderitaan masih teringat jelas dalam ingatan Rose tentang janjinya kepada sang anak yang akan selalu ada untuknya 2 hari setelah kematian  Jillian Rose masih saja memandangi foto sang anak sambil menangis namun ia yakin satu hal bahwa Jillian telah mendapatkan kehidupan bahagia yang kekal disana dan ia masih merasakan sang anak masih berada di sisinya hingga saat ini. 

0 komentar:

Posting Komentar

  • Blogger news

  • Blogroll

  • About