RSS
Facebook
Twitter

Sabtu, 10 Desember 2016

Endless Tears

Akhirnya, tiga tahun masa di SMA akan segera berakhir.

 “Yahh.. serius ga bisa?”

Sebagian besar sudah memikirkan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas atau bekerja.

Ayolah kan ujung-ujungnya juga nanti ketemu juga kan?”

 Berbicara soal berakhirnya masa SMA pasti ada yang namanya upacara kelulusan.

“Ta-tapi.. Eh jangan di….”
            
      Ya, hampir semua sekolah mengadakan upacara sakral tersebut. Hari-hari itu sangat di nantikan, satu hari penuh kenangan. Senang, sedih, haru, semua menjadi satu. Akhir dari sebuah cerita di masa putih abu.

“Heh, bangun! Malah enak-enakan tidur disini! Emangnya rumah nenek apa?”
“Heh? Eh.. hehe maaf ketiduran”
“Ya itu lah kamu, kalo ga makan, ya tidur!”

 Mukanya murung kaya sipir yang belum di gaji selama tiga bulan, usahanya sudah berlangsung sekitar 2 jam yang lalu gagal. Sekarang sudah pukul 18.20 dan hal yang pertama kali Alvin lihat hanya pacarnya yang sedang murung.

“jadi? Gimana?”

Bintang hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perasaan kecewa. Alvin sudah menduga bahwa rencana Bintang tidak akan berhasil sudah berkali kali ia mengatakan bahwa itu akan buang-buang waktu, tetapi Bintang buka orang yang mudah mendengarkan omongan orang lain sebelum ia melakukan dan melihatnya sendiri.

“yaudahlah, mau diapain lagi? Kamu juga kan ga bisa nolak keputusan mereka.”
“Anak-Anak cowo-nya gimana?”
“Jawaban mereka tetep sama, semuanya gak mau ngelewatin satu detik-pun momen sama orang tua mereka masing-masing”

Waktunya untuk menyerah rencana hebatnya tidak akan pernah berhasil bahkan sampai avatar Ang datang untuk kembali melawan raja api demi keseimbangan dunia.  Ruang tamu hening selama lima belas menit, karna sudah malam Alvin memutuskan untuk pulang  kerumah.

“Tunggu…”
“Bin.. Udah malem ah.”
“Nanti aja pulangnya.”
“Ya ampun, mulai deh manjanya keluar.”
“Ih, masih kangen tau!”
“Ya kan besok masih bisa ketemu Bin.”
“Kalo setelah kelulusan kita ga bisa ketemu lagi gimana? Kamu pasti sibuk dan jarang buat ketemu aku.”

Perkataan Bintang seketika membuat Alvin bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia akan benar benar sibuk dengan kuliahnya? Apakah ia akan sering lupa dengan Bintang? Apakah ia akan sulit membagi waktu bersama Bintang? Apakah dengan lulusnya mereka di SMA merupakan awal hubungannya berakhir dengan Bintang?.

“Kita bakal tetep ketemu kok, kampus aku sama kamu juga ga jauh jaraknya, sebisa mungkin kita bakal ketemuan setiap weekend, oke?”
“Janji?”
“Aku janji”

Mereka berdua saling melempar senyum. Bintang benar benar senang dengan ucapan Alvin dan Alvin percaya kalau Bintang akan baik baik saja meskipun mereka akan berada di kampus yang berbeda.

Waktu terus berlalu dan hari upacara kelulusan telah tiba. Semua orang sudah berkumpul di aula di tengah pusat kota seluruh siswa beserta orang tuanya masing masing sibuk mulai memasuki aula dan akan memulai acara yang akan selalu di ingat semasa hidupnya. Namun Alvin sendirian di lorong gerbang aula yang tak jauh dari jalan raya.

“yaampun kemana sih ini orang? Angkat kek telfonnya”

Alvin bertanya tanya di mana Bintang sekarang, apakah ia terlambat bangun? Kenapa telfonnya tidak diangkat? Padahal sebentar lagi acaranya akan di mulai

“Masa iya dia telat bangun? Bintang kan orang yang paling on time?”
 Ucap Ratu yang tiba tiba datang bersama Adit dan Delima .

“Mangkanya itu, gua juga heran kenapa jam segini dia belum dateng.”
“Mungkin emang lagi di jalan Vin, dan mungkin lagi panik karna telat.. haha”
“Orang kaya Bintang bisa telat juga ya? Gue ga nyangka”
“ Eh Delima, ada pepatah yang bilang sepintar pintarnya tupai melompat pasti bakal jatoh juga, iya ga Vin? Haha”
“Iya sih Dit, tapi masalahnya dari tadi telfon gua ga diangkat sama dia, kan aneh”

 Tak lama kemudian kecemasan Alvin mulai hilang, sebuah mobil BMW hitam sudah berada di sebrang jalan, Alvin, Delima, Adit, dan Ratu melihatnya dengan seksama, dan Alvin menyambutnya lalu berusaha menghampiri mobil tersebut

Saat berada di tepi jalan yang berbeda dengan posisi mobil tiba-tiba seorang laki laki berumur 5 tahun datang menghampiri Alvin sambil berlari

“Kak Alvin!”
“Troy? Yaampun bahaya jangan dulu nyebrang”

Alvin berlari berusaha menggapai Troy sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, lalu sebuah mobil dengan cepat menghampirinya.
Bash!

Alvin berhasil menangkap Troy, mereka berdua terselamatkan dari maut namun di saat yang sama mobil tersebut menabrak orang lain. Terdengar suara Delima dan Ratu menangis kencang, Adit hanya bisa terdiam melihat apa yang baru saja terjadi. Tepat di depan Alvin sudah ada Bintang di tengah jalan dengan darah di sekujur tubuhnya.

Mobil yang menabraknya sekelebat menghilang, Alvin membeku, air mata sudah menetes deras, fikirannya kacau melihat  Bintang tergeletak tak berdaya disana tiga puluh menit kemudian ambulans datang dan membawa Bintang dan Alvin, Ratu, Delima, Adit, Troy, dan ayahnya Bintang ikut bersamanya.

Di rumah sakit Bintang langsung di bawa ke ruang UGD bersama Alvin dan teman-temannya.
“Bin.. bangun Bin, Bintang!”

Alvin tanpa henti berteriak selama ia mengantarkan Bintang ke UGD “Please Bin bangun..”  Mereka hampir sampai di ruang UGD tiba tiba Bintang tersadar dengan membuka mata sedikit dan tersenyum

“Tunggu ya, ini cuman sebentar kok”.

Alvin terkejut, itu kalimat petama yang Bintang ucapkan setelah kejadian itu. Dua jam Alvin dan teman temannya menunggu dengan sangat kacau, Alvin hanya bisa berdiam diri dengan duduk di bangku yang tak jauh dari ruang UGD fikirannya kacau, emosinya benar benar tak menentu, gelisah tak berujung, tiba-tiba seorang dokter datang menghampirinya.

“Maaf, kita terlambat menyelamatkannya”

Alvin benar benar meledak ledak, ia mulai kalut, ia tidak percaya kalau Bintang sudah tiada, menangis dan terus menjerit melihat kenyataan yang ada. Delima dan Ratu tak henti henti menangis Adit berusaha menenangkan Alvin yang terus meronta ronta Ayahnya Bintang hanya bisa berdiam sambil menenangkan Troy, adiknya Bintang.

Kesedihan mengiringi pemakaman Bintang, semua orang tak percaya Bintang akan pergi dengan cepat,  semuanya benar benar berduka atas kepergiannya, Alvin hanya bisa berdiam diri melihat proses pemakaman, fikirannya masih kacau. Tidak ada yang menggangunya kebahagiaannya bersama Bintang selama dua tahun berakhir dengan kesedihan yang dalam.

Entah apakah Alvin  dapat melupakan semua ini, jika ya butuh berapa lama untuk dapat melupakannya, janjinya kepada Bintang masih dapat ia rasakan, semua terjadi begitu cepat Alvin masih tidak menyangka kematian dekat bersama Bintang, Bintangnya sudah tidak bisa memancarkan cahayanya, tak akan ada lagi cahaya yang dapat menghangatkannya.




I don’t fear of death anymore

when I see it All over you
Heart are Frozen 
when the stars has lost his light
I’m drown into a darkness

0 komentar:

Posting Komentar

  • Blogger news

  • Blogroll

  • About